Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur, Indonesia. | PLN
Peta Bauran & Aliran Energi
Arahkan kursor untuk nilai persis · klik simpul untuk menyorot alirannya

Sorotan Simpul

Klik salah satu kotak pada diagram di atas — misalnya "Batubara Domestik" atau "Surya" untuk melihat rinciannya di sini.

Catatan Data

Batubara: dari 790 juta ton produksi 2025, 65,1% diekspor, 32,1% dipakai domestik, sisanya jadi stok.
Rincian kapasitas EBT baru: air 7.587 MW, bioenergi 3.148 MW, panas bumi 2.744 MW, surya 1.494 MW, angin & lainnya ±656 MW.
Pembagian ke sektor pengguna akhir (rumah tangga, industri, transportasi, komersial) adalah estimasi ilustratif berbasis pola umum konsumsi energi nasional, bukan angka resmi neraca energi.
Data primer: Kementerian ESDM RI, 2025-2026
Research: HRA/DWA
Grafik: APLUSWIRE/Fiki Andrianto
Data ESDM 2025 mencatat produksi batu bara mencapai 790 juta ton dengan porsi ekspor 65.1%, sementara bauran EBT baru 15.75%.

Dominasi kuat sektor fosil masih membayangi peta energi nasional sepanjang tahun 2025 di tengah lambatnya penetrasi energi baru terbarukan. Produksi batu bara nasional menembus angka 790 juta ton, sedangkan porsi energi baru terbarukan (EBT) baru menyentuh 15.75% dari total bauran energi primer.

Tingginya angka produksi batu bara tersebut belum berbanding lurus dengan pemanfaatan di dalam negeri karena pasar ekspor masih mendominasi peruntukan komoditas ini. Sebanyak 65.1% atau sekitar 514 juta ton batu bara dikapalkan ke luar negeri. 

Kebutuhan domestik hanya menyerap 32.1% yang sebagian besar mengalir ke sektor konversi energi seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), sementara sisa 2.8% atau sekitar 22 juta ton dialokasikan sebagai stok cadangan nasional.

Di sektor energi bersih, capaian bauran sebesar 15.75% ditopang oleh percepatan pembangunan infrastruktur hijau dalam lima tahun terakhir dengan total tambahan kapasitas mencapai sekitar 15.630 MW. 

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) mendominasi dengan kapasitas terpasang sebesar 7.587 MW, diikuti oleh bioenergi sebesar 3.148 MW, dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) mencapai 2.744 MW. Sementara itu, kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) tercatat sebesar 1.494 MW, serta sektor angin dan energi lainnya menyumbang kurang lebih 656 MW.

Seluruh pasokan energi primer ini kemudian terbagi ke dalam dua jalur distribusi utama, yakni jalur pembangkitan listrik yang menyerap sekitar 61% energi dan jalur penggunaan langsung sebesar 39%. Jalur kelistrikan menjadi urat nadi bagi sektor rumah tangga yang memakan estimasi porsi konsumsi sebesar 30%, serta sektor komersial yang menyerap 15%.

Sektor industri menjadi konsumen paling agresif dengan menyerap estimasi 31% pasokan melalui kombinasi kelistrikan serta pembakaran batu bara dan gas secara langsung. 

Jalur transportasi hampir sepenuhnya bertumpu pada penggunaan minyak bumi dan biodiesel dengan porsi konsumsi mencapai 24%, memperlihatkan ruang transisi ke kendaraan listrik yang masih membutuhkan penetrasi lebih dalam.