Ilustrasi proses manufaktur roket.

Malaysia menargetkan mulai memproduksi roket dalam dua tahun ke depan lewat kemitraan strategis antara Weststar Defence Industries Sdn Bhd dan Rocket Technologies International Pty Ltd (RTI), perusahaan dirgantara dan pertahanan asal Australia. 

Perjanjian kerja sama ini diteken pada 1 Juli 2026 di National Convention Centre, Canberra, disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan Malaysia Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin di sela kunjungan kerja tiga harinya ke Australia.

Penandatanganan dilakukan oleh Tan Sri Dr Syed Azman Syed Ibrahim, pendiri sekaligus Direktur Pengelola Grup Weststar, dan Allan James Payne, pendiri RTI. Turut hadir menyaksikan momen tersebut Ketua Dewan Rakyat Malaysia Tan Sri Johari Abdul serta Komisioner Tinggi Malaysia untuk Australia, Sharrina Abdullah.

Kerja sama ini bukan sekadar proyek produksi roket. Kedua perusahaan berencana membangun fasilitas produksi di Malaysia yang ditargetkan beroperasi dalam waktu dua tahun, dengan ambisi lanjutan merambah produksi rudal di masa mendatang. Untuk mewujudkannya, Weststar dan RTI akan membentuk dua perusahaan patungan, satu berkedudukan di Malaysia dan satu lagi di Australia.

Cakupan bisnis yang dibidik cukup luas, mulai dari pembuatan satelit sipil dan pemerintah, sistem pertahanan terintegrasi, hingga layanan uji dan perawatan roket. Dalam jangka panjang, kedua pihak bahkan menyasar kapasitas peluncuran orbit dan sub-orbit. Transfer teknologi, riset dan pengembangan, pengembangan sumber daya manusia, serta kolaborasi dengan institusi pendidikan tinggi turut masuk dalam skema kerja sama.

Investasi Weststar dalam kemitraan ini juga membuka pintu bagi Malaysia untuk mengakses rantai pasok global milik RTI, sesuatu yang selama ini sulit dijangkau industri pertahanan domestik. 

Kedua perusahaan memperkirakan potensi komersial jangka panjang dari kerja sama ini menembus US$10 miliar, mencakup sektor dirgantara, pertahanan, satelit, dan teknologi maju. Sejumlah media Malaysia menyebut angka itu setara lebih dari RM42 miliar.

RTI bukan pemain baru di industri roket Australia. Perusahaan yang berdiri sejak 2019 ini awalnya merupakan perusahaan sister dari Rock Trade Industries, lahir dari kolaborasi dengan University of Southern Queensland (USQ). Berbasis di Helidon, Queensland, RTI mengoperasikan satu-satunya fasilitas uji statis roket komersial di Australia, dengan kapasitas uji horizontal maupun vertikal hingga 1MN.

Keahlian RTI mencakup desain dan manufaktur motor roket propelan padat berbasis ammonium perchlorate composite, sistem pengapian, hingga pengujian energetika untuk kebutuhan pertahanan dan kepolisian Australia. 

Nama RTI juga pernah tercatat dalam misi antariksa berskala internasional, saat perusahaan ini bermitra dengan NASA untuk melacak kapsul re-entry OSIRIS-REx yang melaju pada kecepatan 12 kilometer per detik. RTI sudah mengantongi sertifikasi ISO 9001:2015 dan berlisensi sebagai eksportir motor roket.

Di sisi Malaysia, Weststar Group dibangun oleh Tan Sri Dr Syed Azman Syed Ibrahim, mantan perwira Intelijen Militer Angkatan Bersenjata Malaysia yang pensiun dengan pangkat Mayor pada 1993. Bisnis Weststar bermula dari jasa carter helikopter untuk sektor minyak dan gas pada 2003, sebelum berkembang menjadi salah satu operator helikopter terbesar di Asia Tenggara lewat Weststar Aviation Services. Grup ini juga merambah sektor otomotif, properti, konstruksi, dan asuransi.

Di bidang pertahanan, Weststar Defence Industries sebelumnya berperan sebagai kontraktor utama untuk sistem pertahanan udara STARStreak VSHORAD buatan Thales bagi Kementerian Pertahanan Malaysia (MINDEF). Rekam jejak ini menjadi salah satu modal Weststar dalam menggarap proyek roket bersama RTI.

Kemitraan Weststar dan RTI sejalan dengan Dasar Industri Pertahanan Negara (DIPN) Malaysia yang mendorong penguatan kapabilitas pertahanan mandiri. Kerja sama ini juga menjadi bagian dari Malaysia-Australia Comprehensive Strategic Partnership (CSP), yang mencakup kolaborasi industri pertahanan, teknologi maju, dan pendidikan antara kedua negara.

Selama kunjungan ke Australia, delegasi Menteri Khaled Nordin turut mengunjungi Institute for Space, Defence and Advanced Technologies (ISDAT) di USQ. Lembaga ini memiliki laboratorium material komposit canggih dan riset hipersonik, dan dipandang sebagai contoh model integrasi antara akademisi dan industri pertahanan yang dinilai relevan untuk diterapkan di Malaysia.