Kapal tanker minyak di perairan dekat Selat Hormuz selama periode ketegangan geopolitik yang tinggi pada tahun 2026.

Iran dan Amerika Serikat kembali terlibat baku serangan menggunakan rudal dan drone, memperluas ketegangan militer di kawasan Teluk sekaligus memperumit upaya menjaga jalur energi global tetap terbuka.

Teheran pada Minggu mengklaim kembali menutup Selat Hormuz serta melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di kawasan. Langkah itu terjadi ketika konflik memasuki fase baru setelah serangkaian serangan udara dan ancaman terhadap lalu lintas pelayaran internasional.

Iran memperketat kendali atas jalur strategis tersebut dengan menerapkan kewajiban izin bagi kapal yang hendak melintas. Selat Hormuz sebelumnya menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Qatar, yang selama ini menjadi salah satu mediator dalam upaya perundingan, ikut terdampak. Negara itu kembali menjadi sasaran serangan untuk pertama kalinya sejak April. Uni Emirat Arab (UEA) juga menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal dan drone yang diluncurkan dari Iran.

Media Iran melaporkan ledakan terjadi di sekitar Pelabuhan Bandar Abbas, lokasi fasilitas militer strategis di dekat Selat Hormuz, serta di Pulau Qeshm. Serangan tersebut muncul bersamaan dengan laporan mengenai gelombang baru operasi militer AS terhadap Iran.

Otoritas Selat Teluk Persia yang baru dibentuk Iran menyatakan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz belum dapat berjalan normal akibat "pergerakan ilegal terbaru militer Amerika Serikat di kawasan".

Otoritas tersebut menyebut izin pelayaran baru akan diterbitkan setelah situasi keamanan dinilai stabil. Iran sebelumnya mengumumkan penutupan selat itu setelah sebuah kapal terkena tembakan peringatan karena disebut melintas tanpa izin.

Sehari kemudian, Teheran mengklaim telah melumpuhkan kapal kedua. India melaporkan seorang warganya hilang setelah kapal kontainer GFS Galaxy diserang di perairan lepas pantai Oman. Pemerintah Oman menyatakan 23 awak kapal berhasil diselamatkan.

Qatar kemudian meminta seluruh kapal, termasuk kapal rekreasi, kapal nelayan, dan jet ski, menghentikan sementara aktivitas pelayaran.

Amerika Serikat membantah Iran menguasai Selat Hormuz. Washington menyatakan lalu lintas internasional masih berlangsung dan meminta kapal komersial menggunakan jalur alternatif di sisi selatan dekat Oman yang dinilai lebih aman.

Komando Pusat AS (United States Central Command/CENTCOM) menyatakan telah menyerang 140 target militer Iran pada Sabtu. Dalam tiga hari terakhir, lebih dari 300 sasaran disebut telah dihancurkan untuk mengurangi kemampuan Iran menyerang kapal sipil dan komersial di sekitar Selat Hormuz.

Media pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan terjadi di beberapa kota pelabuhan. Seorang perwira militer Iran disebut tewas dalam serangan tersebut.

Iran kemudian membalas melalui Garda Revolusi Iran (IRGC). Teheran mengklaim telah menghancurkan pusat komando dan kendali serta hanggar drone di Yordania. IRGC juga menyatakan menyerang fasilitas radar AS di Kuwait, platform pendukung kapal induk di Oman, serta pusat pemeliharaan pesawat dan fasilitas komando di Qatar.

Qatar menyebut tiga orang, termasuk seorang anak, terluka akibat pecahan proyektil yang jatuh di wilayahnya. Pemerintah Doha menilai Iran bertanggung jawab penuh atas serangan tersebut.

Eskalasi terbaru memperkecil peluang keberlanjutan kesepakatan sementara antara AS dan Iran yang ditandatangani bulan lalu. Kesepakatan itu sebelumnya bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang setelah tambahan masa negosiasi selama 60 hari.

Presiden AS Donald Trump dalam sepekan terakhir menyatakan dirinya menganggap gencatan senjata telah berakhir, meski masih membuka kemungkinan dimulainya kembali perundingan.

Konflik yang bermula pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran telah mengguncang stabilitas kawasan Teluk. Penutupan efektif Selat Hormuz ikut mendorong kenaikan harga energi global, termasuk bahan bakar, yang berpotensi memperbesar tekanan inflasi.

Kenaikan harga bensin juga menjadi isu sensitif bagi Trump menjelang pemilu Kongres AS pada November mendatang.

Serangan Iran dilaporkan menjangkau sejumlah negara mitra AS di kawasan. UEA menyatakan berhasil mendeteksi ancaman rudal di luar wilayahnya. Bahrain mengaku mencegat sejumlah serangan udara Iran, sedangkan Yordania melaporkan adanya serangan rudal.

Oman menyatakan menjadi sasaran serangan drone, sementara Kuwait melaporkan kerusakan pada fasilitas pengeboran minyak yang membuat seorang pekerja terluka.

Pemerintah Oman memanggil Duta Besar Iran untuk menyampaikan protes atas serangan drone di dua wilayahnya. Kedutaan Besar AS di Oman juga meminta warga negaranya yang berada di Duqm dan Musandam untuk berlindung di tempat.

Gelombang serangan itu terjadi sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bertemu Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi di Muscat. Iran menyebut pembicaraan tersebut membahas pengaturan pelayaran di Selat Hormuz dan akan dilanjutkan dengan melibatkan Qatar.

Araqchi juga melakukan komunikasi melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar untuk membahas perkembangan situasi kawasan.

Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan sikap Teheran melalui unggahan di media sosial X.

"Era kesepakatan sepihak sudah BERAKHIR. Kami sudah bilang: tepati janjimu atau tanggung akibatnya. Kenyataan kini mengetuk pintu."