![]() |
| Kapal-kapal berlabuh di Selat Hormuz pada 17 Juni. | AP PHOTO |
Tiga sumber yang berbicara kepada Reuters pada Kamis mengatakan pembahasan mengenai rencana tersebut telah dilakukan di tingkat kepemimpinan Iran dan baru-baru ini disampaikan kepada Houthi.
Jika dijalankan, penutupan Bab al-Mandeb akan menghambat arus pelayaran menuju Laut Merah, sementara Hormuz tetap tidak dapat dilalui. Kondisi tersebut mengancam dua jalur ekspor energi utama Timur Tengah secara bersamaan.
Seorang sumber yang dekat dengan Houthi mengatakan kelompok itu telah merampungkan persiapan untuk menyerang jalur pelayaran. Rudal dan drone disebut telah ditempatkan di kawasan dataran tinggi Yaman yang menghadap Hodeidah dan Teluk Aden.
Mereka kini hanya menunggu instruksi. "Menunggu perintah untuk memulai," ujar sumber tersebut.
Menurut sumber yang sama, keputusan mengenai waktu penutupan selat akan berada di bawah kendali perwakilan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran yang ditempatkan di Yaman. Secara terpisah, IRGC menyatakan ekspor energi dari kawasan itu akan berlaku "untuk semua pihak atau tidak untuk siapa pun".
Ancaman terbaru itu muncul ketika Selat Hormuz masih ditutup sejak 28 Februari setelah pecah pertempuran antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Gencatan senjata rapuh yang dicapai pada Juni antara Teheran dan Washington kemudian runtuh, memicu kembali kekhawatiran akan konflik berskala lebih luas.
Pekan ini, Presiden Donald Trump juga mengancam akan menyerang infrastruktur kelistrikan Iran, sehingga ketegangan kembali meningkat.
Jalur alternatif minyak ikut terancam
Sejak Hormuz ditutup, sebagian besar ekspor minyak negara-negara Teluk dialihkan melalui jaringan pipa Arab Saudi menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jalur tersebut kini mengangkut sekitar 7% pasokan energi global.
Analis utama Timur Tengah di Verisk Maplecroft, Torbjorn Solvedt, menilai memburuknya hubungan Houthi dan Arab Saudi terjadi pada saat yang paling sensitif.
"Jika pertempuran semakin intensif dan meluas hingga mengganggu infrastruktur ekspor minyak di Laut Merah serta jalur pelayaran, hal itu akan mengancam satu-satunya rute alternatif utama bagi ekspor minyak dari kawasan tersebut," ujarnya.
Ketegangan di kawasan juga meningkat setelah Houthi pekan ini meluncurkan rudal ke Arab Saudi. Serangan itu dilakukan setelah kelompok tersebut menuduh Riyadh mengebom Bandara Sanaa dan sekaligus menandai berakhirnya gencatan senjata yang telah berlangsung selama empat tahun.
Dua sumber regional yang dekat dengan pemerintah Arab Saudi mengatakan Riyadh memandang ancaman dari Iran dan Houthi dengan sangat serius. Menurut mereka, kerajaan menyadari koordinasi antara Houthi dan Teheran terkait operasi di Laut Merah kini semakin erat.
Salah satu sumber regional menggambarkan rencana itu sebagai bagian dari strategi Iran untuk meningkatkan tekanan terhadap AS melalui ancaman terhadap perekonomian global.
"Tidaklah sulit," kata sumber tersebut mengenai kemungkinan menutup selat. "Siapa pun yang punya senapan bisa mengganggu jalur pelayaran. Anda tidak perlu memiliki rudal canggih untuk mengganggu pelayaran."

0Komentar