Bendera Olimpiade dan bendera Rusia selama Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) membuka jalan bagi kembalinya Rusia ke ajang Olimpiade secara lebih luas setelah pada Selasa (7/7) mencabut sementara suspensi terhadap Komite Olimpiade Rusia. 

Keputusan itu sekaligus disertai seruan kepada badan-badan olahraga Olimpiade untuk mengakhiri program verifikasi status netral yang selama tiga tahun wajib dijalani atlet Rusia, sehingga negara tersebut berpeluang kembali menurunkan tim penuh pada Olimpiade Los Angeles 2028.

Menurut IOC, keputusan itu diambil karena babak kualifikasi menuju Los Angeles 2028 telah dimulai dan semua atlet harus memperoleh akses yang setara untuk mengikuti kompetisi. Komisi Urusan Hukum IOC juga menyimpulkan bahwa Komite Olimpiade Rusia tidak lagi memasukkan organisasi olahraga dari wilayah yang berada di bawah yurisdiksi Komite Olimpiade Nasional Ukraina sebagai anggotanya.

Jika diterapkan sepenuhnya, kebijakan tersebut juga membuka peluang bagi Rusia untuk kembali tampil di cabang olahraga beregu setelah sebelumnya hanya diwakili atlet individu dengan status netral. Namun, IOC belum memberikan lampu hijau untuk penggunaan bendera maupun lagu kebangsaan Rusia. Keputusan mengenai simbol nasional itu, menurut IOC, akan ditetapkan "pada waktu yang tepat."

Ajang Olimpiade berikutnya adalah Youth Summer Games 2026 di Dakar, Senegal, yang dibuka pada 31 Oktober. Kompetisi itu dipandang berpotensi menjadi panggung pertama untuk menguji pemulihan status Rusia sebelum Olimpiade Los Angeles 2028.

Meski demikian, atlet Rusia yang kembali ke arena internasional tetap diwajibkan memenuhi ketentuan anti-doping. Persyaratan tersebut mencakup beberapa kali pemeriksaan doping serta keikutsertaan dalam program pengujian yang diakui secara internasional.

Keputusan IOC langsung memantik kecaman dari Ukraina, terutama karena diumumkan sehari setelah serangan rudal dan drone menghantam negara itu.

Menteri Olahraga Ukraina Matviy Bidnyi menyebut langkah IOC sebagai tindakan yang "sinis". Menurutnya, keputusan tersebut bukan hanya keliru, tetapi juga tidak berperasaan mengingat situasi perang yang masih berlangsung.

Berbicara kepada Mediapart, Bidnyi menyoroti besarnya kerugian yang dialami dunia olahraga Ukraina. "Kami juga telah kehilangan dua lusin juara Eropa dan dunia," ujarnya.

Komite Olimpiade Nasional Ukraina turut menyampaikan penolakan. Lembaga itu menyebut keputusan IOC "prematur, tidak berdasar, dan diambil tanpa mempertimbangkan keadaan objektif yang ada."

IOC mempertahankan kebijakannya dengan menegaskan bahwa partisipasi atlet dalam kompetisi internasional "tidak boleh dibatasi oleh tindakan pemerintah mereka, termasuk keterlibatan dalam perang atau konflik."

Arah kebijakan tersebut sebenarnya telah terlihat sejak dua bulan lalu ketika IOC merekomendasikan agar atlet Belarus, sekutu Rusia dalam invasi ke Ukraina pada 2022, diizinkan kembali bertanding menggunakan identitas nasional penuh mereka.