Donald Trump, Presiden AS. | WHITE HOUSE

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kebingungan publik setelah mengklaim bahwa negaranya diam-diam menyedot jutaan barel minyak dari Iran setiap malam. Pernyataan kontroversial ini langsung dimentahkan oleh Menteri Energi AS Chris Wright, yang mengaku sama sekali tidak mengetahui keberadaan operasi rahasia tersebut saat bersaksi di hadapan Kongres pada hari yang sama.

Di hadapan wartawan di Gedung Putih, Trump menyebut operasi senyap ini sebagai jangkar yang menahan lonjakan harga minyak mentah global, terutama setelah pelayaran di Selat Hormuz lumpuh selama tiga bulan terakhir. 

"Jutaan barel minyak telah dikeluarkan, dan itulah mengapa harganya berada di US$ 85-90 per barel, bukan US$ 250," ujar Trump. Tanpa memberikan rincian teknis, ia membanggakan kerahasiaan misi tersebut dan mengklaim bahwa pihak Iran pun tidak menyadarinya.

Pernyataan mengejutkan ini meluncur bersamaan dengan gertakan baru Trump di Truth Social. Ia memperingatkan Teheran akan menanggung akibat karena mengulur waktu dalam negosiasi perdamaian yang kini mandek. Sepanjang konflik, Trump memang berulang kali mengisyaratkan adanya ekstraksi minyak dari Iran. 

Pada Maret lalu, ia sempat menyinggung "hadiah" misterius bernilai masif yang belakangan diketahui merujuk pada pergerakan 10 kapal tanker. Pada bulan yang sama, pemerintahan AS juga mencabut sanksi atas minyak Iran yang tertahan di laut, sehingga membebaskan sekitar 140 juta barel pasokan.

Kontradiksi dari internal kabinet mempertegas jarak antara sang presiden dan pembantunya. Saat berbicara dalam dengar pendapat anggaran fiskal 2027 di hadapan House Committee on Science, Space, and Technology, Chris Wright menegaskan ia tidak memiliki informasi apa pun terkait operasi rahasia tersebut. 

Friksi terbuka ini memperpanjang daftar silang pendapat keduanya. Pada April lalu, Trump sempat menyebut Wright "sama sekali salah" terkait proyeksi harga bensin yang dinilai sulit turun di bawah US$ 3 per galon sebelum 2027. Wright juga sebelumnya terpaksa menghapus unggahan media sosial yang keliru mengklaim Angkatan Laut AS telah mengawal kapal tanker melewati Selat Hormuz.

Di pasar global, data Trading Economics mencatat harga minyak mentah mendarat di kisaran US$ 87,60 per barel pada Rabu, setelah sempat anjlok hampir 3% menyusul rumor gencatan senjata antara Iran dan Israel. Namun, situasi pasokan tetap kritis. Penutupan sebagian Selat Hormuz sejak akhir Februari telah melenyapkan sekitar 16 juta barel per hari dari jalur pasokan dunia. 

Laporan Politico yang mengutip pelaku industri menyebutkan bahwa eskalasi ini telah menguras sekitar 500 juta barel cadangan global, memantik peringatan keras dari International Energy Agency (IEA) bahwa cadangan strategis dunia tidaklah tak terbatas.