Donald Trump, Presiden AS. | WHITE HOUSE

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka opsi untuk mengambil alih pusat infrastruktur minyak Iran di Pulau Kharg, meskipun ia meragukan ketahanan publik domestik dalam menghadapi eskalasi perang yang lebih besar. 

Isyarat konfrontasi langsung ini muncul di tengah kegagalan kedua negara mempertahankan gencatan senjata, disusul gelombang serangan udara baru yang mempersuram prospek perdamaian.

Keinginan menguasai titik strategis tersebut disampaikan Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News. Di tengah tekanan konflik yang terus meluas, ia blak-blakan mengenai hambatan psikologis di dalam negerinya untuk mendukung perang terbuka.

"Preferensi saya selalu, ambil Pulau Kharg. Itu preferensi saya. Tapi saya tidak tahu apakah Amerika punya ketahanan untuk itu," ujar Trump pada Kamis (11/6).

Rencana ofensif ini berjalan beriringan dengan intensitas serangan yang justru dijadwalkan meningkat. Melalui program Fox & Friends, Trump menegaskan militer AS akan melipatgandakan tekanan udara, meski ia memilih untuk menahan diri dari menargetkan infrastruktur publik seperti jembatan dan pembangkit listrik.

"Akan ada lebih banyak pemboman malam ini. Akan lebih besar, lebih besar dan lebih kuat," kata Trump.

Saling balas serangan udara selama dua hari berturut-turut ini memperparah konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Dipantik oleh serangan udara besar-besaran AS dan Israel pada 28 Februari, perang ini telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon, serta memicu lonjakan harga minyak global. 

Dilansir dari Reuters, Teheran sejauh ini masih efektif menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia, sekaligus tetap mempertahankan stok uranium yang diperkaya milik mereka.

Di luar medan tempur yang membara, ketegangan ini diiringi oleh dinamika negosiasi senyap. Sejumlah pejabat Barat dan sumber internal Iran menyatakan bahwa pembicaraan tidak langsung terkait draf kesepakatan damai awal justru semakin intensif. 

Trump mengonfirmasi Washington tetap membuka ruang komunikasi, meski ia meluapkan frustrasinya terhadap sikap keras Teheran serta narasi media. "Semua ini gila," kata Trump. "Mereka sebenarnya sudah dalam posisi menyerah. Mereka hanya belum menyadarinya."

Hingga saat ini, kepastian mengenai komitmen damai sebelumnya masih simpang siur. Gedung Putih belum memberikan respons resmi mengenai apakah kesepakatan gencatan senjata yang sempat disetujui pada April lalu masih berlaku atau sudah sepenuhnya gugur akibat eskalasi terbaru ini.