Aktivitas peletakan kabel atau pipa menggunakan kapal tongkang khusus (pipelaying barge) di area perairan. | CLAUDE
Indonesia bergerak memperbanyak jalur konektivitas digital guna mengurangi ketergantungan terhadap Singapura, yang selama ini menjadi pintu masuk utama lalu lintas internet nasional.

Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Denny Setiawan, mengungkapkan sekitar 90% lalu lintas internet Indonesia saat ini masih mengalir melalui Singapura. Angka itu mencerminkan betapa dalamnya ketergantungan Indonesia pada satu titik transit tunggal di kawasan.

Posisi Singapura bukan tanpa alasan. Negara itu sudah lama menjadi rumah bagi puluhan kabel bawah laut internasional, pusat data berskala besar, serta layanan cloud computing dari raksasa teknologi global seperti Amazon Web Services, Google, Microsoft, dan Meta. Akarnya bahkan bisa ditelusuri hingga akhir abad ke-19, ketika Singapura menjadi titik transit jaringan telegraf bawah laut yang menghubungkan Australia, Hong Kong, dan India. 

Laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut lebih dari satu abad perkembangan infrastruktur komunikasi itu yang membentuk posisi Singapura sebagai pusat internet regional hingga sekarang.

Data platform infrastruktur kabel bawah laut GeoCables mencatat Indonesia memiliki 72 kabel bawah laut, terdiri dari 42 kabel domestik dan 30 kabel internasional. Hampir seluruh kabel internasional itu terhubung ke Singapura.

Denny menegaskan kondisi ini perlu segera dibenahi. "Kita perlu memiliki lebih banyak jalur konektivitas, baik melalui kabel bawah laut maupun kabel terestrial, dan hal yang sama perlu diterapkan di setiap pulau," ujarnya dalam acara penghargaan di Jakarta, Senin (8/6). 

Ia menambahkan bahwa kedaulatan digital kian mendesak seiring meningkatnya kebutuhan kapasitas jaringan untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan dan pusat data.

Pemerintah kini tengah merampungkan rencana besar yang mencakup pengembangan pusat data, kabel bawah laut, jaringan terestrial, hingga spektrum frekuensi radio sebagai fondasi infrastruktur digital nasional.

Muhamad Erza Aminanto, dosen sekaligus Koordinator Program Keamanan Siber Monash University, menilai ketergantungan terhadap Singapura sulit dihindari lantaran faktor geografis. 

"Jakarta sangat dekat dengan Singapura. Dari sudut pandang perusahaan yang membangun kabel serat optik bawah laut, jika ingin menjangkau Jakarta maka menghubungkannya dengan Singapura menjadi pilihan yang logis karena negara tersebut sudah menjadi pusat internet global," ujarnya.

Di sisi kebijakan regional, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Indonesia tengah menjajaki kemitraan strategis dengan Singapura untuk mengembangkan infrastruktur pusat data regional melalui koridor pertumbuhan Singapura-Johor-Riau. 

Airlangga menilai kerja sama itu bagian dari upaya memperkuat rantai pasok regional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara, dan menyebut sektor digital berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang relatif tidak terlalu terdampak ketegangan geopolitik global.