Bendera Amerika berkibar di luar gedung Capitol Amerika Serikat pada 29 September 2013 di Washington, DC. | Ahmed A. Sattar/Flickr

Peta dukungan global terhadap Amerika Serikat mengalami pergeseran tajam. Riset terbaru menunjukkan bahwa citra Washington justru makin berkilau di negara-negara berkembang, sedangkan hubungannya dengan para sekutu tradisional di Barat kian merenggang.

Berdasarkan survei Morning Consult America Reputation Tracker periode Januari 2026 yang menjaring opini di 45 negara, Israel dan Nigeria memimpin sebagai loyalis terbesar dengan tingkat favorabilitas mencapai 83%.

​Gelombang sentimen negatif yang menggulung wilayah Eropa dan Amerika Utara dipicu oleh berbagai kebijakan proteksionis, riak politik internal, kritik tajam terhadap NATO, hingga kebijakan tarif dagang terhadap Kanada dan Eropa. 

Hubungan antarnegara Barat kian memanas setelah muncul wacana kontroversial untuk menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS, ditambah ketertarikan Presiden Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland.

Dampaknya terlihat dari posisi sembilan dari sepuluh negara dengan tingkat favorabilitas terendah terhadap AS yang kini didominasi oleh kawasan Eropa dan Amerika Utara. Ketidakpastian arah kebijakan Washington ini bahkan mendorong Kanada untuk mulai mempererat kerja sama ekonomi dengan Eropa sekaligus meningkatkan hubungan bilateral dengan China.

Ketika sekutu lama menjauh, kekuatan ekonomi baru di Asia justru melihat Washington sebagai mitra krusial dalam bidang ekonomi, keamanan, dan geopolitik. India mencatat angka favorabilitas terhadap AS sebesar 62%, angka yang jauh melampaui Jerman, Prancis, maupun Kanada. Tren serupa terlihat di Vietnam, Filipina, Peru, hingga Argentina yang sukses menembus posisi sepuluh besar.

Publik Indonesia juga menunjukkan kecenderungan positif yang lebih tinggi dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. Sebanyak 45% responden di Indonesia mengutarakan sikap positif, berbanding 39% yang menilai negatif, sementara sisanya memilih netral.

Anomali paling mengejutkan dalam riset ini datang dari China. Di tengah persaingan geopolitik yang sengit antara Washington dan Beijing, tingkat pandangan positif masyarakat China terhadap AS (30%) tercatat lebih tinggi ketimbang angka yang diberikan oleh beberapa mitra historis AS sendiri, seperti Kanada (25%), Swedia (23%), dan Belgia (22%).

​Berikut adalah data persepsi sejumlah negara terhadap AS berdasarkan survei Morning Consult America Reputation Tracker periode Januari 2026: