![]() |
| Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth (kanan) memanggil Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana pada 29 Mei 2026. | MDDI |
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth dan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyepakati sejumlah langkah konkret untuk mempererat kerja sama militer kedua negara, termasuk percepatan produksi rudal bersama dan perluasan akses pangkalan militer AS di wilayah Jepang.
Pertemuan bilateral itu berlangsung di sela-sela Dialog Shangri-La di Singapura, Sabtu (30/5), di tengah meningkatnya kekhawatiran atas sikap militer China yang kian asertif di kawasan Indo-Pasifik.
Salah satu poin utama kesepakatan adalah penempatan sementara sistem rudal berbasis darat milik AS di pangkalan Pasukan Bela Diri Jepang. Kedua pihak juga berkomitmen memajukan kehadiran militer bilateral di Kepulauan Barat Daya Jepang, kawasan yang secara geografis berdekatan dengan Taiwan dan menjadi salah satu titik perhatian strategis di kawasan.
Proposal Jepang yang dikenal sebagai Operation Supercharge turut menjadi fokus pembicaraan. Rencana itu dirancang untuk mempercepat pengembangan bersama dan produksi massal sistem rudal canggih guna memperkuat kemampuan pertahanan udara kedua negara.
Hegseth menyambut positif perubahan kebijakan ekspor pertahanan Jepang yang baru-baru ini diberlakukan Tokyo. Kebijakan tersebut dinilai akan memperkuat basis industri pertahanan Jepang sekaligus membuka ruang lebih luas bagi kerja sama produksi senjata jangka panjang, termasuk dalam hal munisi global yang dianggap krusial.
Kerja sama trilateral dengan Australia juga masuk dalam agenda, khususnya menyangkut kerangka berbagi data pertahanan udara dan rudal yang baru di antara ketiga negara.
Pertemuan itu sendiri berlangsung beberapa jam setelah Hegseth menyampaikan pidato utama di forum yang sama, mendesak para sekutu Asia untuk menaikkan anggaran pertahanan. Ia menegaskan bahwa mitra yang paling berkomitmen akan diprioritaskan untuk mendapat dukungan Washington.
Koizumi, dalam sesi tanya jawab seusai pidato Hegseth, secara terbuka meminta AS memberikan jaminan kepada negara-negara yang meragukan komitmen Washington di kawasan ini. Permintaan itu mencerminkan kegelisahan yang lebih luas di antara sekutu regional, terutama di tengah fokus AS yang sebagian tertarik ke konflik Iran yang kini memasuki bulan keempat.
Dialog Shangri-La ke-23 berlangsung pada 29-31 Mei dan dihadiri pejabat pertahanan dari lebih dari 40 negara.

0Komentar