![]() |
| Prototipe jet tempur KF-21/KFX yang dikembangkan Korea Selatan bersama Indonesia. | Korea Aerospace Industries |
Indonesia resmi mengakhiri keterlibatannya dalam skema produksi bersama jet tempur KF-21 Boramae dengan Korea Selatan. Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa Indonesia kini akan memperoleh pesawat tersebut lewat pembelian langsung dari pemerintah Korsel.
Keputusan ini bukan tanpa perhitungan. Karo Infohan Setjen Kementerian Pertahanan Brigjen Rico Ricardo Sirait menyebut pemerintah telah mengevaluasi ulang program KF-21 dan menyimpulkan bahwa skema kerja sama sebelumnya perlu disesuaikan. Baginya, setiap kemitraan pertahanan mesti benar-benar menguntungkan Indonesia, bukan sekadar keterlibatan simbolis.
"Hal ini khususnya dalam aspek alih teknologi, penguasaan kemampuan industri, dan nilai tambah bagi industri pertahanan nasional," ujar Rico, dikutip dari Bloomberg Technoz Senin (29/06/2026).
Rico menambahkan bahwa evaluasi ini murni hasil kajian internal pemerintah dan tidak berkaitan dengan isu-isu lain yang sempat ramai di ruang publik. Ia menegaskan penyesuaian kebijakan diperlukan agar hasil yang diperoleh sebanding dengan investasi yang telah dikeluarkan serta kebutuhan strategis pertahanan Indonesia.
Yang dimaksud "isu lain" itu kemungkinan merujuk pada kasus yang menghebohkan awal 2024. Yonhap melaporkan, mengutip Defense Acquisition Program Administration (DAPA), sejumlah insinyur WNI yang ditugaskan di Korea Aerospace Industries (KAI) dicurigai menyimpan data pengembangan KF-21 ke dalam USB. Penyelidikan gabungan yang melibatkan Badan Intelijen Nasional Korea Selatan pun digelar.
"Investigasi gabungan yang terdiri dari lembaga-lembaga terkait, termasuk Badan Intelijen Nasional, saat ini sedang dilakukan untuk menyelidiki dugaan pencurian teknologi yang dilakukan oleh warga Indonesia," ungkap seorang pejabat DAPA kepada wartawan, Jumat (02/02/2024).
Penyelidikan difokuskan pada kandungan data yang tersimpan, apakah termasuk teknologi strategis terkait program KF-21. Para insinyur itu dilarang meninggalkan Korea Selatan selama proses berlangsung.
Proyek KF-21 sendiri adalah program ambisius senilai 8,8 triliun won atau sekitar Rp104 triliun. Indonesia masuk sebagai mitra dengan porsi tanggungan 20% dari total biaya, setara kontribusi Korea Aerospace Industries (KAI), sementara pemerintah Korsel menanggung 60% sisanya.
0Komentar