![]() |
| APLUSWIRE/ROBIN SANTOSO |
Tiga bulan setelah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memantik blokade Selat Hormuz, China justru tampil sebagai kekuatan baru yang menentukan arah harga minyak global. Bukan lewat senjata atau negosiasi, melainkan lewat kemampuannya memangkas impor minyak secara masif tanpa mengguncang ekonomi dalam negeri.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah pasar energi dunia, ada negara yang berfungsi sebagai swing importer, importir yang sanggup menekan atau menaikkan pembelian minyak dalam jumlah raksasa sehingga memengaruhi keseimbangan harga global.
Selama puluhan tahun, Arab Saudi memegang peran itu di sisi pasokan sebagai swing exporter. Kini China mengisi kekosongan yang selama ini tidak pernah ada di sisi permintaan.
Perang yang dimulai serangan udara AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari itu memutus akses lebih dari 11 juta barel minyak per hari dari kawasan Timur Tengah. Harga minyak Brent yang sebelumnya berada di bawah US$70 per barel langsung melonjak ke puncak empat tahun di level US$114 per barel pada awal Mei. Sejumlah analis bahkan memproyeksi harga bisa menembus US$200 per barel jika krisis berlarut.
Itu tidak terjadi.
Harga Energi Global
Brent melonjak ke US$114, lalu turun setelah China beraksi
Harga minyak mentah Brent per barel (Feb – Jun 2026)
Harga Brent (US$ per barel)
Proyeksi analis (US$200)
Serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari memantik blokade Selat Hormuz. Harga Brent yang semula di bawah US$70 melonjak ke US$114 per barel pada awal Mei. Peran China sebagai penyangga permintaan membantu meredam kenaikan lebih lanjut menuju proyeksi US$200 yang sempat dikhawatirkan analis.
Data bea cukai China menunjukkan total impor minyak, termasuk melalui pipa dan jalur kereta api, anjlok ke 7,8 juta barel per hari pada Mei 2026, level terendah dalam delapan tahun. Impor turun 20% pada April dan 29% pada Mei dibandingkan tahun sebelumnya. Impor lewat kapal tanker turun lebih dalam lagi, lebih dari 45% di bawah rata-rata sepanjang 2025, atau menyentuh level terendah dalam satu dekade.
Penurunan itu bukan angka kecil. Dalam satu bulan, volume yang dipangkas China setara dengan total konsumsi minyak gabungan Jerman, Prancis, dan Inggris.
Impor Minyak China
Impor minyak China anjlok ke level terendah dalam delapan tahun
Volume impor minyak mentah China (juta ton per bulan, 2026 vs rata-rata 2025)
Impor aktual 2026
Rata-rata 2025
Impor minyak China turun 20% pada April dan 29% pada Mei dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan satu bulan saja setara dengan total konsumsi minyak gabungan Jerman, Prancis, dan Inggris — tanpa memicu krisis ekonomi dalam negeri.
"China telah memainkan peran penting untuk meredam dampak bagi seluruh Asia dan pada akhirnya membantu menahan tekanan terhadap perekonomian global," kata Daan Walter, Kepala think tank energi Ember, seperti dikutip CNN International, Selasa (23/6/2026).
Analis Societe Generale menyebut China sebagai "tangan tak terlihat" yang menjaga keseimbangan pasar minyak. Menurut mereka, kemampuan Beijing memangkas impor hingga sekitar 3 juta barel per hari menjadi faktor kunci yang menahan gejolak harga global, meski konflik Iran sempat mengganggu sekitar 14% pasokan minyak dunia.
China tidak bergerak tanpa persiapan. Selama dua dekade terakhir, Beijing membangun ketahanan energi secara sistematis lewat tiga lapis pertahanan: cadangan minyak strategis terbesar di dunia, armada kendaraan listrik yang masif, dan diversifikasi energi berbasis batu bara serta energi terbarukan.
Perisai Energi China
Tiga instrumen yang menahan China dari krisis energi
Kontribusi mekanisme ketahanan energi saat krisis Hormuz (Apr–Jun 2026)
Kendaraan listrik (EV)
Cadangan Strategis
Diversifikasi energi
Ketiga instrumen diaktifkan bersamaan saat krisis pecah. Pengisian daya EV di jalan tol melonjak 50–80%, produksi listrik batu bara mencatat rekor musiman, dan ratusan juta barel cadangan dilepas ke pasar domestik.
Ketika krisis Hormuz pecah, semua instrumen itu diaktifkan bersamaan. International Energy Agency (IEA) mencatat armada kendaraan listrik China saja sudah memangkas konsumsi minyak negara itu sekitar 1 juta barel per hari dalam setahun terakhir. Aktivitas pengisian daya kendaraan listrik di jalan tol China melonjak 50% hingga 80% pada April dan Mei dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi listrik berbasis batu bara mencatat rekor musiman tertinggi pada April. Industri batu bara-ke-kimia ikut menambal kekurangan pasokan pupuk dan bahan baku industri yang terganggu.
Di balik itu semua, China juga memiliki cadangan yang tidak dimiliki negara mana pun. Menurut Rystad Energy, Beijing mengantongi lebih dari 1 miliar barel cadangan strategis dan komersial yang dibangun ketika harga minyak masih murah, termasuk dari Rusia dan Iran. Besarnya tiga kali lipat milik AS dan lebih dari enam kali lipat cadangan Jepang. Diperkirakan antara 100 juta hingga 200 juta barel dilepas dari cadangan nasional selama pertengahan April hingga pertengahan Juni.
Cadangan Strategis
Cadangan minyak China tiga kali lipat milik Amerika Serikat
Perbandingan cadangan minyak strategis dan komersial (miliar barel, akhir 2025)
Diperkirakan antara 100 juta hingga 200 juta barel dilepas dari cadangan nasional China selama pertengahan April hingga pertengahan Juni. Cadangan ini dibangun selama bertahun-tahun ketika harga minyak masih murah, termasuk dari Rusia dan Iran.
Hasilnya terlihat pada pergerakan harga. Per Senin (22/6), harga Brent sudah turun ke bawah US$78 per barel seiring Selat Hormuz yang kembali terbuka setelah AS dan Iran menandatangani MoU Islamabad pada 18 Juni. Tekanan inflasi global tetap terkendali, pasar tenaga kerja terus tumbuh, dan pasar saham AS bertahan.
Kemampuan China ini memunculkan konsep yang oleh sejumlah kalangan disebut "senjata minyak China." Sebagian analis memilih istilah "perisai minyak China" karena fungsinya lebih bersifat defensif, alat yang bisa dipakai Beijing untuk meredam tekanan geopolitik dari luar.
Implikasi militernya tidak kalah besar. Selama bertahun-tahun, AS menilai ketergantungan China terhadap impor energi yang melewati Selat Malaka sebagai titik lemah strategis yang bisa dieksploitasi jika konflik atas Taiwan meletus. Data tiga bulan terakhir menunjukkan kalkulasi itu perlu direvisi.
Namun para analis mengingatkan kemampuan penyerapan guncangan ini ada batasnya. Jika harga minyak kembali turun, China kemungkinan besar akan segera mengisi ulang cadangannya. IEA bahkan memperkirakan pasokan minyak global tahun depan bisa melampaui permintaan hingga 4,7 juta barel per hari setelah Selat Hormuz pulih sepenuhnya.
0Komentar