kolase dari berbagai mobil listrik (EV) merek China yang sedang populer, seperti Zeekr dan Xpeng. | APLUSWIRE/ROBIN SANTOSO

Produsen kendaraan listrik asal China mencatatkan lonjakan penjualan yang tajam di pasar Eropa pada Mei 2026, memperbesar tekanan terhadap merek-merek lokal yang sudah terjepit transisi energi. Data European Automobile Manufacturers' Association (ACEA) menunjukkan Leapmotor memimpin dengan pertumbuhan 465,1%, diikuti Chery yang melonjak 244,1% dan BYD naik 136,6%.

Geely dan SAIC Motor juga ikut tumbuh, masing-masing 12,6% dan 13,9%. Ekspansi ini bukan tanpa alasan. Sepanjang Januari hingga April 2026, produsen China mengapalkan sekitar 1,4 juta unit EV dan plug-in hybrid (PHEV) ke pasar luar negeri, lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pelemahan pasar domestik mendorong mereka mempercepat ekspansi ekspor.

Sementara merek China melesat, produsen Eropa justru kehilangan pijakan. Registrasi Renault, Stellantis, dan Volkswagen turun antara 1% hingga 3%. Tekanannya datang dari dua arah sekaligus, persaingan sengit di segmen kendaraan listrik dari pemain Asia, dan runtuhnya penjualan kendaraan bermesin konvensional. Mobil bensin dan diesel masing-masing turun sekitar 19% pada Mei.

Secara keseluruhan, total registrasi kendaraan di Uni Eropa, Inggris, dan EFTA naik 3,6% menjadi 1.152.523 unit pada Mei 2026. Pendaftaran mobil listrik baterai (BEV) tumbuh 39,1%, PHEV naik 13,2%, dan mobil hibrida meningkat 8,2%. Ketiganya secara bersama-sama menyumbang lebih dari dua pertiga dari seluruh kendaraan baru yang terdaftar bulan itu.

ACEA menyebut insentif fiskal sebagai pendorong utama di balik angka-angka itu. "Pasar terus diuntungkan dari permintaan konsumen yang kuat untuk berbagai teknologi elektrifikasi di pasar-pasar utama Eropa, yang didukung oleh manfaat pajak dan skema insentif baru dan yang direvisi," kata asosiasi tersebut dalam pernyataan resminya.

Adopsi EV paling ekstrem terjadi di Eropa Utara. Di Norwegia, hampir seluruh mobil baru yang terjual kini bertenaga listrik, mencapai 99%. Denmark menyusul di angka 82%, dan Swedia 65%. Di negara-negara besar Eropa Barat, angkanya lebih moderat tapi tetap signifikan, Inggris 40%, Jerman 37%, dan Prancis 34%.

Eropa sejauh ini menjadi mesin pertumbuhan pasar EV global. Pendaftaran kendaraan listrik di kawasan ini naik 23% secara tahunan menjadi sekitar 415.000 unit pada Mei 2026, ditopang kombinasi insentif pemerintah dan harga bahan bakar yang tinggi.

Kondisi ini kontras dengan Amerika Serikat. Pendaftaran EV di Amerika Utara justru anjlok 26% menjadi sekitar 123.000 unit, dipicu berakhirnya berbagai insentif pajak kendaraan listrik dan pergeseran kebijakan energi di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Di tengah tekanan itu, Tesla mencatat pemulihan selama empat bulan berturut-turut. Registrasi naik 107,9% menjadi 28.610 unit pada Mei, rebound kuat setelah lebih dari setahun terseok. 

Namun pemulihan itu tidak merata. Portugal memimpin dengan lonjakan 349% menjadi 1.463 unit, Denmark tumbuh 136% menjadi 1.750 unit, dan Spanyol naik 113% menjadi 1.690 unit. Di Italia, registrasi Tesla justru turun 23,5% menjadi 654 unit, meski secara kumulatif lima bulan pertama 2026 masih tumbuh lebih dari 15%.

Sebelumnya, Tesla kehilangan hampir setengah pangsa pasarnya di Eropa sepanjang 2025. Persaingan dari produsen China, minimnya peluncuran model baru, dan kontroversi seputar pandangan politik CEO Elon Musk menjadi sejumlah faktor yang menekan kinerja perusahaan di kawasan tersebut.