prototipe KAI KF-21 Boramae, jet tempur generasi 4.5 hasil kolaborasi Korea Selatan dan Indonesia. | ROKAF
Indonesia bersiap menerima pengalihan satu unit prototipe jet tempur KF-21 Boramae setelah merampungkan seluruh kewajiban kontribusi pendanaan dalam proyek pengembangan bersama Korea Selatan. Penyerahan unit bernilai ratusan miliar won ini menandai babak baru penguasaan teknologi kedirgantaraan nasional setelah kemitraan strategis kedua negara berjalan selama lebih dari satu dekade.

Kepastian tersebut menyusul kesepakatan pengiriman satu dari enam prototipe pesawat yang digunakan selama fase pengembangan. Pemerintah Indonesia kini tinggal mematangkan jadwal kedatangan armada tersebut ke tanah air.

"Satu dari enam prototipe KF-21 telah disepakati untuk diserahkan kepada Indonesia. Mudah-mudahan hal ini dapat terealisasi dalam waktu dekat," ujar Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, dalam acara Indonesian Next-Generation Journalist Network di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul, Selasa (9/6), sebagaimana dikutip dari Antara.

Proyek pengerjaan jet tempur generasi 4.5 ini dinyatakan rampung sepenuhnya pada Juni 2026. Melalui skema yang telah disetujui, Indonesia akan mendapatkan varian prototipe berkursi tunggal (single-seat). Pesawat tersebut nantinya dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan uji verifikasi lanjutan domestik, termasuk di antaranya pengujian pengisian bahan bakar di udara (air-to-air refueling).

Paket penyerahan aset pertahanan ini diperkirakan menelan biaya hingga 600 miliar won. Nilai tersebut mencakup harga fisik pesawat yang ditaksir mencapai 350 miliar won, ditambah akumulasi berbagai biaya pengembangan terintegrasi di dalam program KF-21.

Pasca-rampungnya fase perakitan, poros Jakarta-Seoul kini mulai menggeser fokus pada pengelolaan pasca-produksi. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul menjadwalkan pembahasan intensif guna merumuskan tindak lanjut program, terutama mengenai mekanisme pemanfaatan komersial dan operasional dari hasil produksi massal KF-21.

Hubungan bilateral kedua negara di sektor pertahanan memiliki akar sejarah yang panjang. Cecep menegaskan bahwa posisi Indonesia krusial bagi industri militer Korea Selatan, mengingat status Jakarta sebagai salah satu pembeli awal produk pertahanan mereka sejak tahun 1979. Kali ini, fokus kemitraan tidak lagi sekadar jual-beli, melainkan percepatan kapasitas sumber daya manusia domestik melalui transfer teknologi.

Keterlibatan Korsel dalam rantai pasok global juga dipandang sebagai batu loncatan yang ideal. Seoul dinilai berhasil menyerap pengalaman dari kerja sama militer jangka panjangnya dengan Amerika Serikat. Pengalaman dan keahlian Korsel dalam menguasai teknologi sensitif itulah yang kini diadopsi oleh Indonesia.

Di sisi lain, keunggulan kompetitif sistem persenjataan Seoul di pasar global kian memperkuat justifikasi kelanjutan kerja sama ini. Ketua Asosiasi Persahabatan Parlemen Korea Selatan-Indonesia, Kim Gi-hyeon, menyatakan bahwa industri pertahanan Korea Selatan mampu memproduksi sistem persenjataan berteknologi tinggi dengan biaya yang kompetitif. 

Alutsista buatan Negeri Ginseng tersebut diklaim telah teruji secara optimal dalam berbagai konflik geopolitik mutakhir, termasuk perang Rusia-Ukraina yang melibatkan Moskwa serta eskalasi ketegangan di Timur Tengah.

"Saya yakin akan sangat bermanfaat bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama dengan Korea. Korea Selatan tidak hanya menyediakan transfer teknologi, tetapi juga membantu pengembangan dan pelatihan sumber daya manusia untuk mengoperasikan serta mengelola sistem tersebut," kata Kim.