Aktivitas penambangan terbuka (open-pit mining) batu bara dari sudut pandang udara. | CLAUDE

Dua perusahaan baja pelat merah India, Steel Authority of India (SAIL) dan NMDC Ltd, tengah menjajaki kemungkinan mengakuisisi aset coking coal atau batu bara kokas di Rusia. New Delhi mengirim delegasi ke Rusia bulan lalu untuk pembicaraan awal dengan pejabat pemerintah dan pelaku industri setempat, menurut tiga sumber yang mengetahui proses tersebut sebagaimana dikutip Reuters.

Langkah ini datang di tengah tekanan yang makin kuat untuk mengamankan pasokan bahan baku strategis. Sekitar 95% kebutuhan coking coal sektor baja India saat ini dipenuhi dari impor, dengan volume yang terus meningkat dari 51,20 juta ton pada tahun fiskal 2021 menjadi 57,58 juta ton pada tahun fiskal 2025. 

Pada Januari lalu, pemerintah India menetapkan coking coal sebagai mineral kritis dan strategis di bawah Undang-Undang Tambang dan Mineral, mengakui peran strategis komoditas ini dalam menjamin ketahanan mineral dan memenuhi kebutuhan sektor baja domestik.

"Baik SAIL maupun NMDC sedang menjajaki sumber pasokan bahan baku dan melakukan pembicaraan dengan Rusia," kata salah satu sumber, seraya menambahkan bahwa SAIL telah membentuk panel internal untuk mengkaji peluang tersebut.

Permintaan coking coal India diproyeksikan naik 55% menjadi 135 juta ton pada tahun fiskal 2030, didorong oleh kebutuhan baja dari sektor infrastruktur, konstruksi, dan otomotif. India menargetkan kapasitas produksi baja mencapai 300 juta ton per tahun pada 2030. 

Menurut Sekretaris Baja Sandeep Poundrik, total impor coking coal India pada 2030 diproyeksikan mencapai 160 juta ton.

Saat ini lebih dari separuh kebutuhan coking coal India dipasok dari Australia, sementara sisanya dari negara-negara seperti Rusia dan AS. Meski India memiliki cadangan coking coal domestik yang diperkirakan mencapai 37,37 miliar ton, negara ini tetap sangat bergantung pada impor. Ketergantungan itulah yang mendorong New Delhi aktif mendiversifikasi sumber pasokan, termasuk ke Moskwa.

Selain coking coal, India juga membahas peningkatan impor nikel dari Rusia. Pembicaraan awal antara kedua pihak sudah digelar di New Delhi pada April lalu. 

Data perdagangan internasional menunjukkan impor nikel India dari Rusia baru mencapai US$29,35 juta sepanjang 2024, angka yang sangat kecil dibandingkan total kebutuhan nasional. India selama ini mengimpor nikel dari China, Jepang, Norwegia, dan AS.

Nikel menjadi kian penting seiring target ambisius New Delhi di sektor kendaraan listrik. Pemerintah India membidik kendaraan listrik menyumbang 30% penjualan mobil dan 80% kendaraan roda dua pada 2030, naik dari sekitar 6% dan 9% saat ini. Di luar baterai, nikel juga menjadi bahan baku penting dalam produksi stainless steel.

NMDC bukan pendatang baru dalam perburuan aset coking coal di luar negeri. Tahun lalu, pimpinan perusahaan menyatakan NMDC juga menjajaki peluang investasi di Australia dan Indonesia. SAIL sendiri sebelumnya sudah terlibat dalam International Coal Ventures Limited (ICVL), konsorsium patungan bersama Coal India dan RINL yang mengoperasikan tambang batu bara di Provinsi Tete, Mozambik.

Kerja sama mineral dengan Rusia ini berjalan seiring hubungan ekonomi kedua negara yang makin dalam, dengan target perdagangan bilateral US$100 miliar pada 2030. Selain mineral, India juga menetapkan litium, kobalt, dan logam tanah jarang sebagai bahan baku strategis yang perlu dijamin pasokan jangka panjangnya.