Fregat HNLMS De Ruyter F804 milik Angkatan Laut Belanda saat melintas di Sungai Clyde, Glasgow, Skotlandia. | HARRY GARLAND/FLICKR

China dan Belanda terlibat ketegangan di Laut China Selatan setelah kapal perang kedua negara berhadapan di sekitar Kepulauan Paracel, wilayah sengketa yang diklaim Beijing dan Vietnam. Insiden itu terjadi saat fregat Belanda HNLMS De Ruyter berlayar di kawasan tersebut pada Rabu.

Militer China menuding kapal Belanda memasuki wilayah di dekat Paracel secara ilegal dan menerbangkan helikopter ke wilayah udara yang diklaim Beijing. Komando Teater Selatan Angkatan Laut China mengatakan pihaknya mengerahkan langkah pengawasan dan respons militer, termasuk peringatan hingga pengacakan elektronik.

Juru bicara Komando Teater Selatan Angkatan Laut China, Kapten Senior Zhai Shichen, mengatakan Angkatan Laut dan Angkatan Udara China mengambil “langkah-langkah yang diperlukan” untuk menghadapi kapal Belanda.

“Mereka harus segera menghentikan pelanggaran dan tindakan provokatifnya,” kata Zhai dalam pernyataan yang dikutip Politico, Kamis (28/5/2026).

China juga menuduh kehadiran kapal perang Belanda merusak stabilitas kawasan Laut China Selatan yang selama ini menjadi titik sengketa sejumlah negara Asia.

Konfrontasi terjadi di sekitar Kepulauan Paracel, gugusan sekitar 130 pulau kecil yang direbut China dari Vietnam pada dekade 1970-an. Kawasan itu kini dijaga ketat Beijing melalui pangkalan militer, radar pengawasan, dan patroli laut rutin. Kapal sipil maupun komersial dibatasi untuk memasuki wilayah tersebut tanpa izin.

Belanda membantah tuduhan China. Kementerian Pertahanan Belanda menegaskan HNLMS De Ruyter beroperasi sesuai hukum internasional, termasuk ketentuan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).

“HNLMS De Ruyter beroperasi sesuai dengan hukum internasional, termasuk Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS),” kata Kementerian Pertahanan Belanda kepada Politico.

Belanda menyebut pelayaran kapal perang itu merupakan bagian dari kunjungan regional untuk memperkuat hubungan diplomatik, keamanan, dan ekonomi dengan negara-negara mitra di Indo-Pasifik. Pemerintah Belanda tidak merinci operasi militer kapal tersebut selama berada di Laut China Selatan.

Insiden terbaru ini muncul hanya beberapa hari setelah kapal Belanda lain mengalami interaksi dekat dengan militer China di dekat Filipina. Komandan fregat Belanda saat itu mengatakan sebuah helikopter militer China sempat mendekati kapal mereka sebelum akhirnya menjauh.

“Mereka bertanya siapa kami dan kami menjawab, dan itu sudah cukup,” ujar Komandan Rodger de Wit kepada media lokal.

Belanda dalam beberapa tahun terakhir semakin aktif meningkatkan kehadiran militernya di Indo-Pasifik. Pada 2021, fregat HNLMS Evertsen ikut berlayar bersama kelompok tempur kapal induk Inggris HMS Queen Elizabeth melintasi Laut China Selatan. Tiga tahun kemudian, HNLMS Tromp juga menggelar latihan bersama Angkatan Laut Amerika Serikat di perairan sengketa tersebut.

Laut China Selatan menjadi salah satu kawasan paling sensitif di Asia karena dilalui jalur perdagangan global bernilai triliunan dolar AS setiap tahun. China mengklaim sebagian besar wilayah laut itu, termasuk area yang juga diklaim Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei.

Pada 2016, tribunal arbitrase internasional di Den Haag menyatakan klaim luas Beijing di Laut China Selatan tidak memiliki dasar hukum berdasarkan UNCLOS. China menolak putusan tersebut dan tetap mempertahankan aktivitas militernya di kawasan itu.