![]() |
| Presiden Rusia Vladimir Putin mendengarkan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu selama pertemuan di Moskow, Rusia, 20 Februari 2024. | KREMLIN.RU |
Peta garis depan yang dibesar-besarkan diduga kuat telah membentuk persepsi Vladimir Putin tentang jalannya perang di Ukraina. Institute for the Study of War (ISW) menyebut para komandan senior Rusia kemungkinan menyajikan data lapangan yang jauh dari kenyataan kepada presidennya.
Penilaian yang diterbitkan ISW pada 28 Mei itu menemukan pasukan Rusia hanya berhasil merebut 104 kilometer persegi wilayah Ukraina sejak awal 2026 hingga 26 Mei. Angka itu anjlok drastis dibanding periode yang sama tahun lalu, ketika Rusia berhasil merebut 1.619 kilometer persegi.
Temuan ini sebagian dipicu bocornya peta Kementerian Pertahanan Rusia bertanggal 9 April. Peta tersebut mengklaim pasukan Rusia telah menguasai sejumlah permukiman di barat dan tenggara kota Orikhiv, Oblast Zaporizhia. ISW menyatakan klaim itu tidak didukung bukti apa pun di lapangan, dan tidak ada indikasi pasukan Rusia sudah menyusup ke Orikhiv yang telah menjadi sasaran operasional di sektor itu sejak 2022.
Pola serupa terlihat di kawasan Kupyansk. Kepala Staf Umum Valery Gerasimov dan Putin sendiri berulang kali mengumumkan kemajuan yang terus meningkat di sana, mulai dari klaim menguasai setengah kota pada Agustus 2025, naik menjadi dua pertiga pada Oktober, hingga mengklaim penguasaan penuh pada November. Klaim itu berulang kali dibantah ISW maupun para milblogger pro-Rusia sendiri.
Para milblogger Rusia mengeluhkan laporan palsu tentang wilayah yang sudah dikuasai terus mengalir ke atas rantai komando dan memantik "serangan yang sia-sia" demi merebut wilayah yang sebenarnya sudah dilaporkan berhasil dikuasai sebelumnya.
"Pemikiran Putin tampaknya semakin jauh dari realitas medan perang," tulis ISW, "yang kemungkinan besar mengakibatkan diterbitkannya perintah kepada militer Rusia untuk meraih kemajuan yang tidak mampu mereka capai."
Di tengah tekanan itu, Financial Times pada hari yang sama melaporkan, mengutip sumber-sumber yang memiliki kontak dengan Putin, bahwa presiden Rusia itu meyakini pasukannya dapat merebut seluruh Oblast Donetsk dan Luhansk pada musim gugur 2026. Setelah itu, ia berencana meningkatkan tuntutan teritorialnya. Dua orang yang terlibat dalam negosiasi belakang layar soal pengakhiran perang menyebut ambisi Putin bahkan mencakup seluruh wilayah Ukraina antara Rusia dan Sungai Dnipro, termasuk kemungkinan hingga Kyiv dan Odesa.
Kenyataan di lapangan jauh dari target itu. ISW pada 13 Mei mencatat pasukan Rusia hanya maju 2,63 kilometer persegi per hari di Oblast Donetsk sejak Januari, dan menyebut "belum jelas kapan, jika memang bisa, Rusia dapat merebut sisa wilayah tersebut" dengan kecepatan seperti itu.
Bahkan pada April 2026, Rusia mencatatkan kerugian wilayah bersih sebesar 116 kilometer persegi, yang ISW sebut sebagai kerugian bersih pertama sejak serangan Ukraina ke Kursk pada Agustus 2024.
Serangan balik Ukraina di wilayah selatan, kampanye drone jarak jauh yang terus menghantam infrastruktur minyak Rusia, dan pertahanan kuat di Donetsk menjadi faktor yang menghentikan laju ofensif Moskwa.
Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov pada 28 Mei memerintahkan Kelompok Pasukan Barat untuk mempercepat kemajuan di arah Kupyansk, Borova, dan Lyman. ISW menilai perintah itu kemungkinan bertujuan agar kondisi medan perang yang sesungguhnya bisa sesuai dengan peta yang sudah dibesar-besarkan dan telah lebih dulu diserahkan ke Kremlin.

0Komentar