![]() |
| Murid SDN 92 Kendari menyantap menu makan bergizi gratis di Kendari, Sulawesi Tenggara, 26 Januari 2026. Antara/Andry Denisah |
Pemerintah memangkas penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menghapus distribusi pada hari Sabtu. Kebijakan ini diklaim mampu menekan anggaran negara hingga sekitar Rp50 triliun dalam setahun.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut, pengurangan satu hari distribusi saja sudah memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi belanja. Dalam forum Policy Dialogue pada acara Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) di Jakarta, Senin (27/4/2026), ia mengungkapkan penghematan mencapai sekitar Rp1 triliun untuk setiap hari yang dipangkas.
"MBG misalnya, yang dulunya Sabtu diberikan makan siang gratis, sekarang itu dihilangkan. Satu hari itu bisa ngirit satu triliun," kata Juda.
Jika dihitung dalam skala bulanan, penghapusan distribusi setiap Sabtu menghasilkan efisiensi sekitar Rp4 triliun. Angka tersebut kemudian terakumulasi menjadi sekitar Rp50 triliun dalam setahun.
Bagian dari penajaman belanja
Langkah ini merupakan bagian dari strategi penajaman atau refocusing belanja pemerintah. Juda menjelaskan, pemerintah tetap mempertahankan program prioritas, namun dengan pendekatan yang lebih terarah dan efisien.
"Ini adalah refocusing atau penajaman. Kita tetap melakukan program-program prioritas yang ada dengan lebih berkualitas dan lebih tajam," ujarnya.
Kebijakan tersebut juga diarahkan untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali, terutama di tengah tekanan global seperti kenaikan harga minyak.
Selain penghapusan distribusi pada hari Sabtu, pemerintah juga menghentikan penyaluran MBG selama masa libur sekolah.
Efisiensi sudah dimulai sejak April
Pengurangan frekuensi MBG dari enam hari menjadi lima hari per pekan mulai berlaku sejak 1 April 2026. Kebijakan ini sebelumnya diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada 31 Maret 2026.
Saat itu, Airlangga menyebut potensi penghematan mencapai Rp20 triliun. Sementara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan angka efisiensi bisa mencapai Rp40 triliun berdasarkan perhitungan awal Badan Gizi Nasional.
Program MBG sendiri menjadi salah satu agenda utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dengan alokasi anggaran mencapai Rp335 triliun pada 2026. Program ini menargetkan sekitar 82,9 juta penerima di seluruh Indonesia.
Meski terjadi pengurangan frekuensi distribusi, pemerintah tetap memberikan pengecualian untuk wilayah tertentu. Sekolah berasrama, daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta wilayah dengan tingkat stunting tinggi tetap menerima distribusi penuh selama enam hari dalam sepekan.

0Komentar