Seorang perwakilan dari kantor kejaksaan menunjukkan bagian-bagian dari rudal tak dikenal, yang diyakini pihak berwenang Ukraina dibuat di Korea Utara dan digunakan dalam serangan di Kharkiv pada6 Januari 2024. REUTERS/Vyacheslav Madiyevskyy


Investigasi forensik terbaru terhadap serpihan rudal balistik Korea Utara yang ditembakkan ke Ukraina mengungkap fakta mengejutkan. Kementerian Pertahanan Ukraina menemukan bahwa senjata kiriman Pyongyang tersebut dirakit menggunakan komponen dan teknik manufaktur yang tertinggal sekitar 50 tahun dari standar persenjataan modern.

Kesenjangan teknologi ini teridentifikasi setelah para ilmuwan militer melakukan analisis laboratorium terhadap puing-puing misil KN-23 dan KN-24. Dua jenis proyektil ini sebelumnya menghantam kota Kharkiv pada awal Januari 2024. 

Meskipun digunakan dalam perang intensitas tinggi di era digital, jeroan rudal tersebut justru menunjukkan keterbatasan industri pertahanan Korea Utara yang masih bergantung pada solusi material usang.

Salah satu temuan krusial adalah penggunaan pelindung grafit untuk menjaga hulu ledak dari suhu ekstrem saat kembali memasuki atmosfer. Metode ini dianggap sebagai langkah penghematan karena Pyongyang kesulitan mengakses material perlindungan termal yang lebih canggih. 

Selain itu, sistem navigasi dan unit kontrol rudal-rudal tersebut kedapatan menggunakan mikrocip kelas sipil asal Tiongkok, Jepang, Swiss, Inggris, hingga Amerika Serikat yang diduga diselundupkan lewat pasar gelap guna menghindari sanksi internasional.

Seorang perwakilan dari kantor kejaksaan menunjukkan bagian-bagian dari rudal tak dikenal, yang diyakini pihak berwenang Ukraina dibuat di Korea Utara dan digunakan dalam serangan di Kharkiv pada 6 Januari 2024. REUTERS/Vyacheslav Madiyevskyy

Kementerian Pertahanan Ukraina menyebutkan bahwa dimensi KN-23 memiliki diameter belakang 110 sentimeter, sebuah spesifikasi unik yang hanya diproduksi oleh Korea Utara. 

Penggunaan bahan bakar padat yang kurang efisien juga memaksa perancang militer mereka membuat mesin yang 1,5 kali lebih besar dan panjang dibandingkan misil Iskander-9M723 milik Rusia guna mencapai jangkauan terbang yang sama.

Kendati teknologinya dianggap kuno, militer Ukraina menegaskan bahwa senjata ini tetap membawa risiko fatal bagi warga sipil. Laju balistik yang cepat membuat rudal-rudal ini sangat sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara standar.

"Meski menggunakan teknologi yang sudah usang, rudal-rudal ini, seperti semua senjata balistik lainnya, sangat sulit ditangkal oleh sistem pertahanan udara dan karena itu merupakan ancaman mematikan bagi warga Ukraina," bunyi pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Ukraina.

Ketergantungan Moskwa terhadap pasokan dari Pyongyang terlihat dari intensitas serangan sepanjang tahun ini. Data Angkatan Udara Ukraina yang dikutip CNN menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari rudal balistik yang ditembakkan Rusia ke Ukraina selama 2024 merupakan KN-23. Secara total, Ukraina menuduh Korea Utara telah mengirimkan sedikitnya 148 unit rudal balistik untuk memperkuat agresi Kremlin.

Hasil investigasi laboratorium ini telah memastikan bahwa fragmen yang ditemukan di lapangan sesuai dengan publikasi ilmiah Korea Utara, termasuk pola lubang baut pada nosel dan ceruk penerima navigasi satelit. 

Pemerintah Ukraina menyatakan temuan forensik ini akan digunakan sebagai bukti kuat dalam penyelidikan kejahatan perang serta menjadi dasar untuk memperketat penegakan sanksi internasional di masa depan.