Korea Utara telah menguji coba rudal jarak jauh Hwasong-18 pada 13 Juli 2023. KCNA

Korea Utara menembakkan serangkaian rudal balistik dalam satu hari, memicu koordinasi darurat antara Korea Selatan dan Jepang. Dua negara sekutu Amerika Serikat itu langsung menggelar panggilan video tingkat menteri pertahanan untuk menyelaraskan respons atas eskalasi terbaru dari Pyongyang.

Peluncuran dilakukan dari kawasan Wonsan di pesisir timur Korea Utara pada Rabu, bertepatan dengan pernyataan keras Pyongyang yang menyebut Korea Selatan sebagai “negara musuh paling berbahaya”. Informasi ini dilaporkan The Korea Times dan dikonfirmasi otoritas militer Seoul.

Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mencatat, rudal pertama diluncurkan sekitar pukul 08.50 waktu setempat dan terbang sejauh kurang lebih 240 kilometer sebelum jatuh di perairan Laut Timur.

Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 14.20, peluncuran kedua terdeteksi dari lokasi yang sama. Rudal tersebut menempuh jarak lebih dari 700 kilometer, menunjukkan variasi kemampuan dalam uji coba hari itu.

Sehari sebelumnya, militer Korea Selatan juga mendeteksi dugaan peluncuran rudal dari wilayah Pyongyang yang hilang dari radar tak lama setelah lepas landas. Insiden itu diduga sebagai kegagalan uji coba.

Dengan rangkaian ini, Korea Utara telah melakukan setidaknya empat hingga lima peluncuran rudal balistik sepanjang tahun ini. Pada Maret lalu, Pyongyang juga diketahui menembakkan sekitar 10 rudal dari area Sunan.

Pemerintah Jepang melalui Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara memastikan tidak ada rudal yang masuk ke zona ekonomi eksklusif Jepang dan tidak ada laporan kerusakan.

Pasukan Amerika Serikat di Korea menyatakan pihaknya “mengetahui” peluncuran tersebut dan tengah berkoordinasi dengan sekutu. Mereka menilai uji coba itu tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap personel, wilayah, maupun sekutu AS.

Di tengah situasi tersebut, Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back dan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menggelar panggilan video darurat pada hari yang sama.

Koordinasi ini melanjutkan tren penguatan kerja sama pertahanan kedua negara dalam beberapa bulan terakhir, termasuk latihan militer bersama dan eksplorasi teknologi pertahanan baru seperti kecerdasan buatan serta sistem senjata nirawak.

Kedua pihak juga terus menekankan pentingnya kerja sama trilateral dengan Amerika Serikat untuk menghadapi ancaman dari program rudal dan nuklir Korea Utara.

Militer Korea Selatan menyatakan pihaknya mempertahankan postur pertahanan gabungan yang “kokoh” bersama AS dan siap merespons setiap provokasi.

Eskalasi ini terjadi di tengah dinamika hubungan yang sempat menunjukkan sinyal ambigu. Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung sebelumnya menyampaikan penyesalan atas insiden drone sipil yang memasuki wilayah Korea Utara dan menyebutnya sebagai sumber ketegangan yang tidak perlu.

Kim Yo-jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, sempat merespons dengan nada yang dianggap lebih lunak. Ia menyebut Lee sebagai sosok yang “jujur dan berpikiran luas”.

Namun, pernyataan itu segera ditepis oleh Wakil Menteri Luar Negeri Pertama Korea Utara Jang Kum-chol.

Ia menyebut tafsir positif dari Seoul sebagai “mimpi siang bolong” dan menegaskan Korea Selatan tetap menjadi “negara yang paling bermusuhan”. Menurutnya, komentar Kim Yo-jong dimaksudkan sebagai “peringatan tegas”, bukan sinyal pelonggaran sikap.