Donald Trump berjabat tangan dengan Raja Inggris Charles III sebelum meninggalkan Kastil Windsor, Windsor. AP PHOTO


Presiden Donald Trump menyebut kunjungan kenegaraan Raja Charles III ke Amerika Serikat berpotensi “pasti” memperbaiki hubungan kedua negara yang belakangan merenggang. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan BBC menjelang lawatan resmi raja Inggris tersebut.

Kunjungan Charles dijadwalkan berlangsung pada 27–30 April dan menjadi yang pertama oleh monarki Inggris ke AS sejak era Ratu Elizabeth II pada 2007. 

Agenda utama mencakup pertemuan dengan Trump di Gedung Putih, jamuan makan malam kenegaraan, hingga rencana pidato di hadapan sidang gabungan Kongres—mengulang momen yang pernah dilakukan Elizabeth II pada 1991. Selain Washington, rombongan kerajaan juga akan singgah di New York dan Virginia, termasuk bertemu keluarga korban serangan 11 September.

Lawatan ini berlangsung di tengah ketegangan politik antara Washington dan London. Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer memilih tidak bergabung dalam kampanye militer AS dan Israel terhadap Iran. Sikap itu memicu kritik terbuka dari Trump, yang menilai Inggris tidak memberikan dukungan yang diharapkan.

Dalam wawancara tersebut, Trump menilai kedatangan Charles bisa menjadi titik balik hubungan bilateral. Ia juga menegaskan kedekatannya secara personal dengan sang raja. 

“Beliau luar biasa. Beliau pria yang luar biasa. Tentu saja jawabannya ya,” kata Trump. “Saya mengenalnya dengan baik, sudah bertahun-tahun. Beliau pria yang pemberani dan hebat. Kunjungan ini pasti akan berdampak positif.”

Ketegangan politik tetap terasa dalam pernyataan Trump terkait kebijakan Inggris. Ia mengkritik pendekatan Starmer terhadap konflik Iran dan isu domestik seperti energi serta imigrasi. 

“Jika dia membuka Laut Utara dan jika kebijakan imigrasinya menjadi lebih tegas—yang saat ini belum demikian—dia bisa pulih. Tapi jika tidak, saya rasa dia tidak punya peluang,” ujarnya.

Starmer menanggapi kritik tersebut dengan menegaskan bahwa kebijakan pemerintahannya tidak dipengaruhi tekanan eksternal. Saat kunjungan ke sebuah sinagoge di London barat laut, ia menekankan bahwa keputusan Inggris diambil berdasarkan kepentingan nasional.

“Itulah mengapa saya memutuskan bahwa kita tidak akan terseret ke dalam perang di Iran. Itulah mengapa saya memutuskan kita tidak akan terseret ke dalam blokade selat tersebut,” kata Starmer.

Trump sendiri mengakui adanya perbedaan pandangan antara kedua negara. Ia menyebut dukungan Inggris dalam konflik Iran sebagai hal yang diharapkan, meski tidak krusial bagi AS. 

“Saya sama sekali tidak membutuhkan mereka, tapi seharusnya mereka ada di sana,” ujarnya. Ia juga menggambarkan dorongannya agar Inggris terlibat sebagai “semacam ujian.”