![]() |
| operasi penyelamatan kapal kargo MV Ruen oleh Angkatan Laut India yang terjadi pada Maret 2024. |
Setidaknya dua kapal dibajak dalam kurun enam hari di perairan lepas pantai Somalia, menandai lonjakan baru ancaman keamanan maritim di kawasan Tanduk Afrika. Otoritas pelayaran internasional merespons dengan menaikkan tingkat ancaman, seiring munculnya kelompok perompak baru yang memperumit situasi yang sebelumnya relatif terkendali.
Insiden pertama terjadi pada 22 April, ketika kapal tanker minyak Honour 25 disergap sekitar 30 mil laut dari pesisir timur laut Somalia. Kapal yang tengah berlayar dari Berbera menuju Mogadishu itu membawa sekitar 18.500 barel minyak dan diawaki 17 kru dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Pakistan, India, Sri Lanka, dan Myanmar. Enam orang bersenjata naik ke kapal, disusul lima lainnya tak lama kemudian. Kapal kemudian dipaksa berlabuh di antara Xaafun dan Bander Beyla di wilayah semi-otonom Puntland.
Empat hari berselang, pada 26 April, kapal kargo Sward yang berbendera St. Kitts dan Nevis mengalami nasib serupa. Kapal yang mengangkut semen dari Terusan Suez menuju Mombasa itu dibajak sekitar enam mil laut di timur laut Garacad. Sebanyak sembilan perompak bersenjata dilaporkan terlibat dalam aksi tersebut.
Kapal diawaki 15 orang, terdiri dari dua warga India dan 13 warga Suriah. Insiden ini dikonfirmasi oleh EU Naval Force Operation Atalanta dan UK Maritime Trade Operations (UKMTO).
Laporan juga mencatat adanya upaya penyerangan terhadap kapal lain, termasuk kapal nelayan, dalam periode yang sama.
Menurut laporan Agence France-Presse, pembajakan terhadap Sward dilakukan oleh kelompok yang sebelumnya tidak teridentifikasi. Mereka beroperasi dari wilayah Garacad, yang berada di selatan titik-titik pembajakan tradisional seperti Hafun, Bander Beyla, dan Eyl.
Seorang pejabat keamanan di Puntland mengatakan kelompok tersebut terdiri dari “pemuda pedesaan” yang berasal dari wilayah dengan akses senjata yang luas. Faktor ekonomi disebut menjadi pendorong utama, termasuk kemiskinan dan kemarahan terhadap praktik penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing dari Tiongkok, Yaman, Iran, dan negara lain.
Perkembangan ini menunjukkan pergeseran pola ancaman, dari kelompok perompak lama ke aktor baru dengan latar belakang berbeda.
Di saat yang sama, pejabat intelijen Puntland sebelumnya telah memperingatkan bahwa sejumlah kelompok perompak kini memiliki kemampuan teknologi yang lebih maju.
Mereka disebut memperoleh perangkat pelacak GPS dan persenjataan dari militan Houthi di Yaman, memungkinkan operasi hingga jauh ke lepas pantai dan meningkatkan akurasi dalam mencegat kapal dagang.
Para analis menilai meningkatnya kembali aktivitas pembajakan tidak lepas dari berkurangnya fokus kekuatan angkatan laut internasional di kawasan tersebut. Armada internasional saat ini banyak terlibat dalam operasi lain, termasuk menghadapi ancaman Houthi di Laut Merah dan ketegangan di Selat Hormuz pascakonflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Kondisi ini menciptakan celah pengawasan di sebagian wilayah Samudra Hindia bagian barat, yang dimanfaatkan oleh kelompok perompak untuk kembali beroperasi.
UKMTO telah menaikkan tingkat ancaman perompakan di Cekungan Somalia menjadi “substansial”. Dalam peringatannya, lembaga tersebut menekankan bahwa kondisi cuaca yang mendukung berpotensi meningkatkan frekuensi serangan, dan mengimbau kapal-kapal untuk meningkatkan kewaspadaan selama melintas di kawasan tersebut.
Lonjakan insiden ini terjadi bersamaan dengan pembahasan isu keamanan maritim di Dewan Keamanan PBB pekan ini. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyoroti akar masalah yang berasal dari kondisi daratan.
“Ketidakamanan di laut bermula dari daratan,” kata Guterres dalam sidang tersebut. Ia menekankan perlunya investasi pada mata pencaharian masyarakat pesisir dan penguatan tata kelola pemerintahan untuk mengatasi penyebab utama kejahatan maritim.
“Lautan harus menjadi zona perdamaian dan kerja sama — bukan konfrontasi atau paksaan,” ujarnya.

0Komentar