momen ketegangan di Selat Hormuz yang melibatkan kapal tanker dan kapal cepat militer.


Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih tersendat meski gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai berlaku. Dalam 24 jam pertama, hanya sekitar 15–20 kapal yang melintas, jauh di bawah rata-rata harian sebelum konflik yang mencapai lebih dari 130 kapal.

Data perusahaan analitik maritim Windward menunjukkan aktivitas di jalur strategis itu belum pulih. Di saat yang sama, lebih dari 800 kapal masih tertahan di perairan Teluk Persia, menunggu kejelasan teknis dan jaminan keamanan sebelum kembali berlayar.

Gencatan senjata dua minggu yang diumumkan Presiden Donald Trump melalui Truth Social mewajibkan Iran membuka jalur aman di Selat Hormuz. Namun, skema yang diterapkan tetap mengharuskan kapal melalui proses izin, pemeriksaan dokumen, hingga pengawalan militer oleh otoritas Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan ini bergantung pada penghentian serangan terhadap Iran. Mekanisme pengawasan oleh IRGC yang berkembang selama konflik enam minggu terakhir juga masih diberlakukan penuh.

Di perairan Teluk, tumpukan kapal terus membesar. Organisasi Maritim Internasional mencatat setidaknya 426 kapal tanker minyak mentah dan bahan bakar, 34 kapal LPG, serta 19 kapal LNG masih tertahan. 

Data Kpler menunjukkan sekitar 172 juta barel minyak dan produk olahan berada di laut, tersebar di hampir 200 kapal tanker. Sekitar 20.000 pelaut ikut terdampak situasi ini.

Pelaku industri pelayaran memilih menahan diri. Maersk dan Hapag-Lloyd belum kembali mengoperasikan rute melalui Hormuz. CEO Hapag-Lloyd, Rolf Habben Jansen, mengatakan pemulihan jaringan logistik akan memakan waktu.

“Pemulihan arus lalu lintas normal akan membutuhkan setidaknya enam hingga delapan minggu, bahkan jika kondisi membaik,” ujarnya kepada pelanggan. Ia juga menambahkan bahwa jaminan keamanan yang lebih kuat masih menjadi syarat utama sebelum kapal kembali melintas.

Menurutnya, krisis ini telah menelan biaya sekitar US$50 juta hingga US$60 juta per minggu bagi perusahaan. Empat raksasa pelayaran global—Maersk, MSC, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd—telah menghentikan operasi di jalur tersebut sejak awal Maret.

Analis memperkirakan antrean kapal tidak akan cepat terurai. Korea Ocean Business Corporation menilai fase awal pembukaan kembali justru akan diwarnai lonjakan keberangkatan dalam waktu singkat, diikuti kemacetan pelabuhan yang bisa berlangsung berbulan-bulan.

Fitch Solutions melalui unit BMI menyebut pemulihan kemungkinan lebih dulu terjadi pada kapal tanker minyak. Segmen LNG, kargo curah, dan kontainer diperkirakan tertinggal karena faktor asuransi, kesiapan awak, dan gangguan jaringan logistik.

Direktur Jenderal IATA Willie Walsh menyatakan gangguan juga merembet ke sektor energi. Ia menyebut butuh “berbulan-bulan” agar pasokan bahan bakar kembali stabil akibat terganggunya kapasitas kilang di kawasan Timur Tengah.

Di tengah situasi ini, Iran mulai menyusun aturan baru terkait biaya transit. Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi mengatakan Teheran bekerja sama dengan Oman untuk merancang protokol tersebut, dengan pendapatan yang akan digunakan untuk rekonstruksi pascakonflik.

Delegasi AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Islamabad untuk membahas kesepakatan lanjutan, sementara ratusan kapal masih menunggu kepastian di salah satu jalur energi terpenting dunia itu.