![]() |
| Terusan Panama, jalur air buatan yang sangat penting bagi pelayaran global. | ISTOCK |
Amerika Serikat bersama lima negara di Amerika Latin dan Karibia menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Panama, sekaligus menuding China melakukan tekanan ekonomi dan upaya mempolitisasi jalur perdagangan maritim.
Pernyataan bersama itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan yang melibatkan operasi pelayaran berbendera Panama dan dinamika geopolitik di Terusan Panama.
Pernyataan tersebut ditandatangani oleh AS, serta Bolivia, Kosta Rika, Guyana, Paraguay, dan Trinidad dan Tobago. Dalam dokumen bersama itu, mereka menyoroti apa yang disebut sebagai “tekanan ekonomi yang ditargetkan” dari Beijing terhadap kapal-kapal yang menggunakan registrasi Panama.
“Kami memantau dengan seksama tekanan ekonomi yang ditargetkan oleh China serta tindakan-tindakan terbaru yang telah berdampak pada kapal-kapal berbendera Panama,” demikian bunyi pernyataan itu.
Negara-negara tersebut juga menegaskan bahwa Panama merupakan pilar penting dalam sistem perdagangan maritim yang harus bebas dari tekanan eksternal.
Ketegangan ini tidak muncul tiba-tiba. Situasi memanas setelah Mahkamah Agung Panama pada 30 Januari membatalkan konsesi yang sebelumnya dipegang oleh CK Hutchison Holdings untuk mengoperasikan terminal pelabuhan di Balboa dan Cristóbal, dua titik strategis di Terusan Panama.
Tak lama setelah keputusan itu, otoritas pelabuhan China disebut menahan puluhan kapal berbendera Panama di pelabuhan mereka. Pada awal Maret, sekitar 28 kapal dilaporkan ditahan selama lima hari, sementara laporan lain menyebutkan jumlahnya meningkat hingga sekitar 70 kapal pada awal April.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengecam langkah tersebut. Ia menyebut penahanan kapal itu berpotensi mengganggu rantai pasok global dan menggerus kepercayaan terhadap perdagangan internasional.
Di tengah ketegangan itu, Terusan Panama justru mengalami lonjakan lalu lintas kapal. Kondisi ini dipicu konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS dan Iran, yang membuat sejumlah jalur pelayaran global dialihkan.
Wakil administrator terusan, Ilya Espino de Marotta, menyebut jumlah pelintasan harian naik dari perkiraan 34 menjadi hingga 40 kapal. Para pelaku logistik disebut mulai menghindari Selat Hormuz yang dinilai berisiko.
Data yang dikutip dari Associated Press menunjukkan, sebagian pelaku industri bahkan rela membayar hingga US$4 juta untuk mendapat prioritas lintasan. Sementara itu, Bloomberg melaporkan waktu tunggu kapal di beberapa titik mencapai sekitar tiga setengah hari akibat padatnya arus pelayaran.
Kondisi ini menempatkan Terusan Panama dalam tekanan ganda: di satu sisi meningkatnya arus perdagangan global, di sisi lain memanasnya rivalitas geopolitik yang ikut menyeret negara kecil di Amerika Tengah tersebut ke pusat perhatian internasional.
Kelima negara selain AS yang ikut dalam pernyataan bersama itu juga tergabung dalam koalisi Shield of the Americas, aliansi yang dibentuk dalam pertemuan puncak di Florida pada awal Maret.

0Komentar