Presiden Donald J. Trump menyampaikan pidato di Verst Logistics Manufacturing di Hebron, Kentucky pada hari Rabu, 11 Maret 2026. | WHITE HOUSE/JOYCE N. BOGHOSIAN

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik selama sebulan antara AS dan Israel melawan Iran telah menghasilkan “pergantian rezim” secara de facto di Teheran. Pernyataan itu disampaikan di tengah sinyal diplomatik yang menguat, namun diiringi eskalasi militer yang belum mereda.

Berbicara kepada wartawan di dalam Air Force One, Trump menilai perubahan kepemimpinan Iran telah menciptakan realitas politik baru. Ia juga menyebut peluang kesepakatan untuk mengakhiri konflik terbuka dalam waktu dekat.

“Saya pikir kita akan membuat kesepakatan dengan mereka, cukup yakin... tapi kita sudah mengalami pergantian rezim,” kata Trump, dikutip Agence France-Presse. “Kita berurusan dengan orang-orang yang berbeda dari siapapun yang pernah berurusan sebelumnya. Ini kelompok orang yang benar-benar berbeda. Jadi saya akan menganggap itu sebagai pergantian rezim.”

Konflik ini berkembang di tengah ketegangan lama terkait program nuklir dan pengaruh regional Iran, yang kembali memuncak setelah serangkaian serangan lintas wilayah. 

Dalam beberapa pekan terakhir, serangan udara dan operasi militer dilaporkan menargetkan infrastruktur strategis Iran, sementara Teheran merespons dengan serangan ke negara-negara sekutu AS di kawasan.

Di saat yang sama, Washington mendorong proposal gencatan senjata 15 poin. Trump mengklaim Teheran telah merespons positif sebagian besar isi proposal tersebut. 

“Mereka menyetujui sebagian besar poinnya. Kenapa tidak?” ujarnya.

Pernyataan itu berseberangan dengan sikap resmi Iran. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh AS menggunakan jalur diplomasi sebagai kedok untuk persiapan militer. Ia menegaskan negaranya tidak sedang bernegosiasi. 

“Pasukan kami menunggu kedatangan tentara Amerika di darat untuk membakar mereka,” kata Ghalibaf.

Isu energi muncul sebagai titik tekan utama dalam dinamika ini. Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump menyebut opsi merebut aset minyak Iran sebagai bagian dari strategi tekanan. Ia secara spesifik menyinggung Pulau Kharg, terminal ekspor utama yang menangani sekitar 90% pengiriman minyak mentah Iran.

“Mungkin kita ambil Pulau Kharg, mungkin tidak. Kita punya banyak pilihan,” ujarnya. “Saya rasa mereka tidak punya pertahanan. Kita bisa mengambilnya dengan sangat mudah.”

Pulau Kharg selama ini menjadi simpul vital ekspor energi Iran, sementara Selat Hormuz tetap menjadi jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global. Trump juga mengklaim Iran telah mengizinkan 20 kapal tanker melintas di selat tersebut, meningkat dari 10 kapal yang sebelumnya disebutkan.

Pakistan mengonfirmasi adanya izin bagi kapal berbenderanya untuk melintasi jalur itu, dengan dua kapal dijadwalkan melintas setiap hari. Namun, lalu lintas di Selat Hormuz dilaporkan anjlok hingga 90–95% sejak konflik pecah.

Di lapangan, intensitas serangan belum menurun. Serangan terhadap fasilitas listrik menyebabkan pemadaman di Teheran dan wilayah sekitarnya. Iran meluncurkan serangan balasan ke Kuwait dan Arab Saudi.

Militer AS memperkuat kehadiran di kawasan. USS Tripoli yang membawa sekitar 3.500 marinir dan pelaut telah tiba, sementara sebagian pasukan Lintas Udara ke-82 dilaporkan dalam perjalanan.

Kelompok pemantau hak asasi manusia berbasis di AS mencatat sedikitnya 3.461 orang tewas di Iran sejak konflik dimulai, termasuk lebih dari 1.500 warga sipil.