![]() |
| Presiden Donald J. Trump menyampaikan pidato di Verst Logistics Manufacturing di Hebron, Kentucky pada hari Rabu, 11 Maret 2026. | WHITE HOUSE/JOYCE N. BOGHOSIAN |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut dirinya sebagai “pembawa damai” saat operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran memasuki minggu kelima, di tengah meningkatnya korban jiwa dan meluasnya eskalasi konflik di kawasan.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam forum Future Investment Initiative di Arab Saudi pada Jumat, ketika pertempuran masih berlangsung di beberapa front, termasuk Iran dan Lebanon.
Data yang dihimpun Reuters dari Bulan Sabit Merah Iran mencatat lebih dari 1.900 orang tewas dan sedikitnya 20.000 terluka sejak operasi yang disebut “Epic Fury” dimulai pada 28 Februari.
Di Lebanon, serangan Israel terhadap Hizbullah membuka front terpisah sejak awal Maret. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya 1.142 orang tewas. Konflik juga berdampak pada negara-negara Teluk, dengan korban dilaporkan di Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain.
Dalam pidatonya, Trump mengakui bahwa situasi saat ini tampak bertolak belakang dengan klaimnya.
“Saya tahu ini terdengar tidak benar jika saya mengatakannya, tapi saya ingin warisan saya dikenang sebagai pembawa damai yang hebat, karena saya benar-benar percaya bahwa saya adalah pembawa damai,” ujarnya. “Saat ini memang tidak terlihat seperti itu, tapi saya pikir saya adalah pembawa damai.”
Di lapangan, intensitas serangan belum menunjukkan penurunan. Dua belas tentara AS terluka, termasuk dua dalam kondisi parah, setelah serangan Iran ke Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi, salah satu insiden paling serius yang melibatkan langsung pasukan AS sejak konflik dimulai.
Serangan udara Israel juga terus menyasar fasilitas yang diklaim terkait program nuklir Iran serta infrastruktur industri seperti pabrik baja. Teheran menyatakan akan meningkatkan pembalasan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan operasi militer ditargetkan selesai dalam “hitungan minggu, bukan bulan” tanpa pengerahan pasukan darat. Ia menyebut sasaran utama meliputi penghancuran kemampuan angkatan laut, udara, dan peluncur rudal Iran.
“Kami akan menghancurkan angkatan laut mereka, kami akan menghancurkan angkatan udara mereka, dan kami akan menghancurkan secara signifikan peluncur rudal mereka,” kata Rubio usai pertemuan dengan menteri luar negeri G7 di Prancis. Ia menambahkan, capaian operasi sejauh ini berlangsung “lebih cepat dari jadwal.”
Meski demikian, Rubio mengakui sekitar 5.000 Marinir dan sedikitnya 1.000 pasukan dari Divisi Airborne ke-82 telah ditempatkan di kawasan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan.
Trump dalam kesempatan yang sama menggambarkan operasi militer tersebut sebagai keberhasilan, dengan menyatakan bahwa kapasitas militer Iran telah “dimusnahkan” dan para pemimpinnya “memohon-mohon untuk membuat kesepakatan.” Ia juga sempat berkelakar menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump” sebelum mengoreksi ucapannya.
Konflik sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 13 personel militer AS dan 19 orang di Israel, menurut perhitungan Reuters, di tengah meningkatnya tekanan internasional atas dampak kemanusiaan yang terus membesar.

0Komentar