Fasilitas pembangkit listrik tenaga batu bara Osaki CoolGen Corporation di Osakikamijima. | JGC HOLDING CORPORATION

Jepang membuka kembali ruang bagi pembangkit listrik tenaga batu bara, termasuk fasilitas yang sebelumnya dinilai tidak efisien, sebagai langkah menjaga keamanan pasokan energi di tengah guncangan global akibat konflik di Timur Tengah. Kebijakan ini memungkinkan pembangkit tersebut mengikuti lelang pasar kapasitas mulai tahun fiskal yang dimulai April 2026.

Dokumen panel Kementerian Perdagangan Jepang yang dipublikasikan setelah pertemuan Jumat (27/3/2026) menunjukkan pemerintah melonggarkan pembatasan lama yang sebelumnya dibuat untuk menekan emisi karbon. 

Dalam skema pasar kapasitas, operator pembangkit menjual komitmen pasokan listrik di masa depan guna memastikan ketersediaan energi saat permintaan meningkat.

Perubahan kebijakan muncul ketika rantai pasokan energi Asia terguncang. Penutupan efektif Selat Hormuz serta berhentinya operasi fasilitas gas alam cair terbesar di Qatar memperbesar risiko bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi Timur Tengah.

Jepang termasuk yang paling rentan. Lebih dari 90% kebutuhan minyak negara itu berasal dari kawasan tersebut, terutama untuk sektor transportasi dan industri. Ketidakpastian pasokan membuat pemerintah mencari sumber listrik yang dapat diandalkan dalam jangka pendek.

Proposal kementerian perdagangan menyebutkan peningkatan penggunaan pembangkit batu bara dapat menggantikan konsumsi liquefied natural gas (LNG) sekitar 500.000 ton. Langkah ini juga dipandang sebagai perlindungan tambahan jika impor minyak terganggu.

Kementerian menyatakan pemerintah akan bekerja sama dengan sektor swasta untuk memantau persediaan LNG secara berkala dan dapat turun tangan mengoordinasikan distribusi bahan bakar antarperusahaan utilitas bila diperlukan.

Sebelumnya, Jepang membatasi partisipasi pembangkit batu bara beremisi tinggi dalam lelang kapasitas sebagai bagian dari strategi transisi energi. Kebijakan baru menandai perubahan arah, meski pemerintah menekankan sifatnya sementara.

Dalam strategi energi nasional terbaru yang dirilis tahun lalu, Tokyo tetap berkomitmen mengurangi penggunaan pembangkit batu bara secara bertahap. Namun tekanan keamanan energi kini mendorong fleksibilitas kebijakan.

Langkah serupa juga mulai dipertimbangkan negara lain. Korea Selatan mengkaji opsi penggunaan batu bara yang lebih fleksibel apabila pasokan LNG terganggu, sementara lonjakan harga gas di Eropa kembali meningkatkan ketergantungan pada bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik.

Data BloombergNEF menunjukkan batu bara masih menjadi sumber listrik terbesar Jepang pada 2024 serta dua tahun sebelumnya. Sekitar 64% impor batu bara Jepang pada 2023 berasal dari Australia, menurut data kementerian perdagangan.

Di tengah kebijakan baru ini, Jepang tetap mencatat penurunan emisi gas rumah kaca. Data tahunan global yang dihimpun Komisi Eropa menunjukkan Jepang termasuk lima penghasil emisi utama yang berhasil menurunkan total emisi pada 2024, dengan penurunan 2,8%.

Sektor energi negara itu juga mengurangi emisi sekitar 8% sepanjang 2005–2024, seiring ekspansi energi bersih. Meski demikian, BloombergNEF menilai target pengurangan emisi Jepang sebesar 60% pada 2035 dibanding level 2013 masih terlalu lemah untuk memastikan pencapaian nol emisi bersih pada 2050.