![]() |
| Presiden Donald J. Trump mengawasi Operasi Epic Fury di Mar-a-Lago, Palm Beach, FL, 1 Maret 2026. | WHITE HOUSE/DANIEL TOROK |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut terbuka untuk mendukung kelompok bersenjata di dalam Iran yang ingin melawan pemerintahan Islam di Teheran. Sejumlah pejabat AS mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa opsi tersebut sedang dipertimbangkan di tengah operasi militer gabungan AS–Israel yang masih berlangsung.
Langkah itu, jika diwujudkan, akan memperluas keterlibatan Washington dalam konflik yang sudah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan memicu operasi militer terbesar AS di Timur Tengah dalam dua dekade terakhir.
Operasi yang diluncurkan Trump pada 28 Februari bersama Israel diberi nama Operation Epic Fury. Kampanye tersebut menargetkan fasilitas militer Iran, termasuk instalasi rudal dan aset angkatan laut. Trump sebelumnya memperkirakan serangan berlangsung empat hingga lima pekan, namun belakangan mengakui durasinya bisa lebih panjang.
Tujuan resmi Gedung Putih mencakup penghancuran kemampuan rudal Iran, melumpuhkan kekuatan lautnya, mengakhiri ambisi nuklir Teheran, serta memutus dukungan terhadap kelompok militan di kawasan. Pemerintah AS menyebut langkah itu sebagai upaya mempersempit kapasitas militer Iran secara menyeluruh.
Di tengah eskalasi, Trump berbicara melalui telepon dengan dua pemimpin utama Kurdi Irak, Masoud Barzani dan Bafel Talabani. Laporan Axios menyebut pembicaraan tersebut membahas perkembangan perang dan kemungkinan langkah berikutnya.
Pasukan Kurdi memiliki ribuan personel di sepanjang perbatasan Iran–Irak dan menjalin hubungan dengan komunitas Kurdi di wilayah barat Iran. Menurut laporan yang sama, pendekatan kepada kelompok Kurdi itu sebagian didorong Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang selama bertahun-tahun membangun relasi dengan faksi-faksi Kurdi dan mengangkat potensi peran mereka dalam pertemuan dengan Trump di Gedung Putih.
Di Washington, opsi dukungan terhadap aktor bersenjata di dalam negeri Iran muncul bersamaan dengan pernyataan Trump yang tidak menutup kemungkinan pengerahan pasukan darat.
Dalam wawancara dengan New York Post, ia mengatakan tidak “gentar terhadap pengerahan pasukan darat” dan akan mengirim pasukan “jika diperlukan”, meski menambahkan bahwa ia “mungkin” tidak membutuhkannya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan posisi serupa dalam konferensi pers di Pentagon. “Kami akan melangkah sejauh yang diperlukan,” katanya.
Trump juga secara terbuka menyerukan perubahan politik dari dalam Iran. Dalam video yang diunggah ke platform Truth Social saat serangan dimulai, ia mengatakan kepada warga Iran bahwa “kebebasan kalian telah tiba” dan mendorong mereka mengambil alih pemerintahan setelah pemboman selesai. Pesan itu diulang dalam sejumlah pernyataan publik berikutnya.
Namun hingga kini belum terlihat tanda-tanda pemberontakan massal. Sejumlah analis menilai oposisi Iran terfragmentasi dan tidak memiliki struktur pemerintahan alternatif yang siap menggantikan rezim saat ini.
Mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, Richard N. Haass, mengatakan kepada Los Angeles Times bahwa perubahan rezim tidak otomatis berujung pada transisi demokratis.
“Bahkan jika rezim ulama jatuh, pasukan keamanan berada dalam posisi terbaik untuk menggantikannya,” ujarnya. Ia menambahkan oposisi politik Iran “tidak bersatu atau berfungsi sebagai pemerintahan yang siap mengambil alih”.
Analis di Atlantic Council juga menilai skenario jatuhnya rezim dapat membuka jalan bagi negara yang dikendalikan militer di bawah Korps Pengawal Revolusi Islam, bukan pemerintahan sipil demokratis.
Dalam wawancara terpisah dengan The New York Times, Trump mengatakan ia memiliki “tiga pilihan yang sangat baik” untuk calon pemimpin Iran, namun menolak menyebutkan nama. Dalam percakapan yang sama, ia merujuk pada penggulingan Nicolás Maduro yang didukung AS sebagai “skenario yang sempurna”, pernyataan yang dipandang sejumlah pengamat bertolak belakang dengan seruannya agar rakyat Iran bangkit sendiri.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa Washington tengah mempertimbangkan berbagai jalur mulai dari tekanan militer langsung hingga dukungan terhadap aktor bersenjata lokal dalam menghadapi pemerintahan Iran.

0Komentar