![]() |
| Presiden AS Donald Trump berbicara kepada pers setelah tiba di Air Force One di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, pada 11 Maret 2026. |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Washington kemungkinan akan segera mengambil langkah terhadap Kuba—baik melalui kesepakatan maupun tindakan lain—namun menegaskan bahwa pemerintahannya saat ini masih memprioritaskan operasi militer terhadap Iran.
Berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu, Trump menyebut pemerintah AS sedang melakukan komunikasi dengan Havana. Ia mengisyaratkan bahwa isu Kuba akan menjadi agenda berikutnya setelah konflik dengan Iran selesai.
"Kuba juga ingin membuat kesepakatan, dan saya pikir kita akan segera membuat kesepakatan atau melakukan apa pun yang harus kita lakukan," kata Trump kepada wartawan, menurut laporan Reuters. "Kita sedang berbicara dengan Kuba, tetapi kita akan menangani Iran sebelum Kuba."
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya retorika Washington terhadap pulau Karibia tersebut. Dalam beberapa pekan terakhir, Trump beberapa kali menyampaikan kemungkinan langkah lebih keras terhadap pemerintah Kuba setelah kampanye militernya terhadap Iran.
Havana mengakui adanya pembicaraan
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel sebelumnya mengonfirmasi bahwa pejabat kedua negara telah melakukan pembicaraan baru-baru ini. Pernyataan itu disampaikan dalam video yang ditayangkan televisi pemerintah pada Jumat.
Ia mengatakan dialog tersebut bertujuan mencari jalan keluar atas perbedaan lama antara kedua negara.
"Pembicaraan ini ditujukan untuk menemukan solusi melalui dialog terhadap perbedaan bilateral yang kami miliki antara kedua negara," kata Díaz-Canel.
Namun ia menekankan bahwa kesepakatan tidak akan tercapai dalam waktu dekat.
Menurutnya, negosiasi merupakan "proses yang panjang" yang memerlukan kemauan politik serta saluran komunikasi yang terbuka.
Krisis energi memperburuk situasi domestik
Kontak diplomatik itu terjadi ketika Kuba menghadapi salah satu krisis ekonomi terdalam dalam beberapa dekade terakhir.
Díaz-Canel mengatakan tidak ada pengiriman minyak yang mencapai pulau tersebut selama tiga bulan terakhir. Kondisi ini disebut sebagai dampak dari tekanan energi yang semakin ketat dari AS, terutama setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Washington.
Selama bertahun-tahun Venezuela menjadi pemasok minyak utama bagi Kuba.
Kelangkaan bahan bakar kini memicu pemadaman listrik bergilir di berbagai wilayah negara tersebut. Pemerintah juga terpaksa membatasi layanan publik dan menunda puluhan ribu operasi bedah karena kekurangan energi.
Retorika Washington semakin keras
Komentar Trump pada Minggu menambah rangkaian pernyataan kerasnya mengenai masa depan Kuba.
Awal bulan ini, saat berbicara kepada wartawan di Doral, Florida, ia mengatakan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sedang berdialog dengan pimpinan Kuba. Trump juga menyebut kemungkinan "pengambilalihan secara baik-baik" terhadap pulau itu.
"Mungkin bukan pengambilalihan secara baik-baik," katanya saat itu.
Dalam wawancara dengan Politico, Trump bahkan memperkirakan bahwa "Kuba akan jatuh" setelah operasi militer terhadap Iran selesai.
Meski komunikasi kembali dibuka, kedua pemerintah masih memiliki perbedaan mendasar. Pejabat AS memberi sinyal bahwa pelonggaran tekanan ekonomi hanya akan dipertimbangkan jika Havana melakukan konsesi politik dan ekonomi.
Pemerintah Kuba, sebaliknya, menegaskan bahwa setiap negosiasi harus menghormati kedaulatan negara tersebut.
Díaz-Canel mengatakan ia berharap pembicaraan yang sedang berlangsung dapat menjauhkan kedua negara—yang telah lama bermusuhan—dari kemungkinan konfrontasi terbuka.

0Komentar