Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (kiri) dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) Ryosei Akazawa berjabat tangan usai menandatangani Memorandum of Cooperation (MoC) di sela Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Minggu (15/3/2026). | Kementerian ESDM


Indonesia dan Jepang menandatangani kesepakatan kerja sama di bidang mineral kritis dan energi nuklir di Tokyo pada Minggu (15/3), langkah yang mencerminkan semakin eratnya kolaborasi energi kedua negara di tengah persaingan global atas bahan baku strategis.

Kesepakatan itu diumumkan dalam Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM), forum energi kawasan yang mempertemukan pemerintah dan pelaku industri untuk membahas keamanan pasokan energi di Indo-Pasifik.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memimpin delegasi Indonesia dalam forum yang berlangsung pada 14–15 Maret tersebut. Pertemuan diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (Ministry of Economy, Trade and Industry/METI) bersama National Energy Dominance Council dari Amerika Serikat.

Kerja sama mineral kritis diarahkan untuk memperkuat rantai pasok global yang dianggap semakin strategis bagi industri teknologi dan energi bersih. Permintaan terhadap mineral seperti nikel, kobalt, dan unsur tanah jarang meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, terutama untuk baterai kendaraan listrik dan infrastruktur energi terbarukan.

Di hadapan para menteri energi negara-negara Indo-Pasifik, Bahlil menekankan pentingnya kerja sama yang saling menguntungkan di tengah dinamika geopolitik energi.

“Forum ini saya sangat mengapresiasi sebagai bentuk dari keberadaan kita semua untuk saling menguatkan, tidak saling melemahkan,” ujar Bahlil.

Kesepakatan yang ditandatangani di Tokyo merupakan tindak lanjut pembahasan sebelumnya antara Dewan Pertimbangan Nasional Indonesia dan METI Jepang pada awal Maret 2026 mengenai penguatan kerja sama di sektor mineral strategis.

Kerja sama nuklir dan rencana PLTN

Selain mineral kritis, kedua negara juga memperkuat kerja sama pengembangan energi nuklir, khususnya teknologi Small Modular Reactor (SMR).

Kerja sama ini melengkapi inisiatif trilateral antara Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat yang mulai berkembang dalam beberapa bulan terakhir. Pada 3–5 Maret 2026, ketiga negara menyelenggarakan lokakarya bertajuk Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology (FIRST) di Jakarta.

Lokakarya tersebut membahas kesiapan regulasi, pengembangan sumber daya manusia, serta pembangunan rantai pasok industri yang dibutuhkan untuk pengembangan SMR di Indonesia.

Pemerintah Indonesia menargetkan pembangkit listrik tenaga nuklir pertama dapat beroperasi secara komersial pada 2032 dengan kapasitas awal sekitar 250 megawatt.

Kuasa Usaha Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Mitsuru Myochin, mengatakan Jepang siap berbagi pengalaman teknis dalam pengembangan teknologi tersebut, termasuk pelajaran dari insiden Fukushima pada 2011.

“Jepang dan Amerika Serikat adalah salah satu negara paling tepercaya dalam pengembangan SMR,” kata Myochin.

Persaingan global mineral strategis

Forum IPEM berlangsung di tengah meningkatnya persaingan negara-negara besar untuk mengamankan pasokan mineral kritis yang menjadi fondasi industri teknologi modern.

Menurut laporan Bloomberg, pertemuan itu juga digelar menjelang kunjungan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi ke Washington pada 19 Maret. Dalam kunjungan tersebut, Jepang dan sejumlah negara Asia-Pasifik diperkirakan akan mengumumkan kesepakatan energi dan mineral kritis dengan perusahaan-perusahaan Amerika bernilai sedikitnya US$30 miliar.

Indonesia sendiri telah menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan AS pada Februari 2026. Perjanjian itu membuka akses investasi pada sektor mineral kritis, dengan tetap mempertahankan kebijakan hilirisasi yang mewajibkan pengolahan mineral dilakukan di dalam negeri.