Kendaraan lapis baja milik pasukan perdamaian PBB, UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon), yang sedang berpatroli di Lebanon Selatan. | UNIFIL


Jumlah personel Indonesia yang gugur dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) bertambah menjadi tiga orang setelah insiden kedua terjadi pada Senin pagi (30/3/2026) di dekat Bani Hayyan, Lebanon selatan — hanya beberapa jam setelah serangan artileri yang menewaskan satu prajurit pada Minggu malam.

Dalam insiden terbaru itu, dua prajurit Indonesia tewas setelah kendaraan yang mereka tumpangi hancur akibat ledakan yang belum diketahui penyebabnya. Dua personel lainnya turut terluka, satu di antaranya dalam kondisi parah.

Sebelumnya, pada Minggu malam di dekat desa Adchit al-Qusayr, distrik Marjayoun, sebuah proyektil meledak di posisi UNIFIL dan menewaskan Prajurit Satu Farizal Rhomadhon, 28 tahun, anggota Brigade Infanteri 25 TNI AD asal Yogyakarta. Ia meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan berusia dua tahun. Tiga personel lain turut terluka dalam insiden itu.

UNIFIL menyatakan pihaknya belum dapat memastikan asal proyektil dari insiden pertama. "Kami tidak mengetahui asal proyektil tersebut. Kami telah meluncurkan penyelidikan untuk menentukan semua keadaan yang terjadi," demikian pernyataan misi PBB tersebut.

"Ini adalah insiden fatal kedua dalam 24 jam terakhir. Kami menegaskan kembali bahwa tidak seorang pun seharusnya harus mati demi mengabdi pada perdamaian," ujar UNIFIL.

Kedua insiden tersebut menimpa unit yang berada di bawah brigade sektor timur UNIFIL, yang dipimpin Jenderal Spanyol Antonio Bernal Martín. Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles turut mengonfirmasi serangan kedua dan menegaskan perlunya pertanggungjawaban. "Harus ada yang bertanggung jawab atas hal ini," katanya.

Pemerintah Indonesia mengutuk keras insiden tersebut dan mendesak penyelidikan menyeluruh serta transparan. Jakarta menekankan bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus dihormati dalam segala situasi.

Rangkaian serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Lebanon selatan sejak awal Maret, ketika konflik antara Israel dan Hezbollah kembali memanas. Sejak saat itu, UNIFIL mencatat sedikitnya 20 kali insiden penembakan yang menyasar atau berdampak pada posisi mereka.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengecam serangan tersebut dan memperingatkan meningkatnya risiko terhadap pasukan penjaga perdamaian. Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin menyebut kekerasan ini sebagai "eskalasi yang mengejutkan".

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menilai serangan tersebut telah melampaui batas. "Garis merah baru telah dilanggar di Lebanon," ujarnya, seraya mendesak Israel menghentikan permusuhan.

UNIFIL menegaskan bahwa serangan yang disengaja terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, serta dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.