![]() |
| Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Republik Indonesia. |
Pemerintah membuka opsi mengurangi hari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi lima hari per pekan sebagai bagian dari upaya menjaga defisit APBN 2026 tetap di bawah 3% terhadap PDB.
Langkah ini muncul di tengah tekanan harga minyak global yang melonjak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent sempat menembus US$100 per barel, jauh di atas asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel.
Dalam simulasi pemerintah, jika harga bertahan di US$92 per barel sepanjang tahun, defisit berpotensi melebar hingga 3,6% terhadap PDB tanpa penyesuaian kebijakan.
Pemerintah memilih menahan defisit di kisaran 2,89–2,9% dengan mengandalkan efisiensi belanja. Selain MBG, kementerian dan lembaga diminta menghitung ruang penghematan masing-masing, termasuk opsi menunda proyek infrastruktur multi-years.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pengurangan satu hari dalam pelaksanaan MBG berasal dari usulan Badan Gizi Nasional (BGN), bukan keputusan sepihak pemerintah. Ia menyebut langkah tersebut masih dalam tahap opsi efisiensi anggaran.
"MBG juga akan melakukan efisiensi dengan mengurangi satu hari saja, hitungan kasarnya bisa sekitar Rp 40 triliun, tapi bisa lebih," ujar Purbaya.
Anggaran MBG pada 2026 tercatat mencapai Rp 335 triliun. Menurut Purbaya, ruang penghematan masih terbuka tanpa harus mengubah tujuan utama program.
Koordinasi fiskal dilakukan di tengah ketidakpastian eksternal yang belum mereda. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah masih mengandalkan skenario penyesuaian belanja selama konflik belum berlarut lebih dari lima bulan.
Pemerintah juga memastikan belum akan menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Purbaya menegaskan APBN masih mampu menahan tekanan harga energi dalam kondisi saat ini.
"APBN kita masih tahan. Saya tidak akan ubah subsidi atau APBN sampai harga benar-benar melonjak tinggi. Dengan kondisi sekarang, sampai akhir tahun masih aman," katanya.
Hingga akhir Februari 2026, realisasi APBN mencatat defisit Rp135,7 triliun atau 0,53% terhadap PDB, dengan pendapatan negara Rp358 triliun dan belanja Rp493,8 triliun.

0Komentar