![]() |
| pemandangan menakjubkan dari Sky Views Observatory, yang terletak di lantai 52 dan 53 dari hotel Address Sky View di Dubai. |
Negara-negara Teluk memberi sinyal akan menarik kembali investasi bernilai puluhan miliar dolar dari Amerika Serikat, seiring tekanan ekonomi akibat perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran dalam sebulan terakhir.
Kekhawatiran itu mengemuka di kalangan pejabat pemerintahan Donald Trump, menurut laporan Politico. Sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut negara-negara Arab Teluk hanya memiliki waktu beberapa minggu sebelum terpaksa memulangkan sebagian modal mereka untuk menopang ekonomi domestik.
"Yang benar-benar membuat orang panik adalah bahwa negara-negara Arab Teluk telah memperingatkan bahwa mereka tinggal beberapa minggu lagi sebelum harus menarik kembali puluhan miliar dolar investasi dari Amerika Serikat," kata sumber tersebut. "Ketika mereka melakukan hal itu, ini akan sangat mengguncang dan bertentangan dengan tujuan investasi presiden."
Tekanan perang dan hitung ulang investasi
Konflik yang pecah pada 28 Februari, saat pasukan AS dan Israel menyerang target Iran, mendorong negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) meninjau ulang strategi keuangan mereka.
Laporan Reuters menyebut tiga ekonomi utama kawasan mulai mengevaluasi investasi luar negeri, termasuk kemungkinan divestasi dan perubahan komitmen.
Seorang pejabat Teluk yang tidak disebutkan namanya mengatakan dana kekayaan negara tengah “mempertimbangkan kemungkinan pembalikan komitmen investasi, divestasi, dan penilaian ulang perjanjian sponsor internasional.”
Nilainya tidak kecil. Setelah kunjungan Trump ke kawasan Teluk tahun lalu, Uni Emirat Arab berjanji menanamkan US$1,4 triliun di AS, Qatar US$1,2 triliun, dan Arab Saudi sekitar US$600 miliar. Secara kolektif, dana kekayaan negara GCC mengelola aset lebih dari US$5 triliun, dengan AS sebagai tujuan utama investasi lintas batas.
Financial Times melaporkan negara-negara tersebut juga menilai kemungkinan mengaktifkan klausul force majeure dalam kontrak yang ada.
Serangan balasan Iran terhadap infrastruktur energi dan gangguan di Selat Hormuz menekan pendapatan kawasan, dengan proyeksi pertumbuhan turun menjadi 2,6% tahun ini—1,8 poin lebih rendah dari perkiraan sebelumnya menurut Oxford Economics.
Sinyal berbeda dari Riyadh dan Doha
Di tengah tekanan itu, forum investasi FII Priority Summit tetap digelar di Miami. Gubernur Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi, Yasir Al-Rumayyan, menegaskan dana tersebut masih berpegang pada agenda jangka panjang.
Sumber Saudi mengatakan kepada Reuters bahwa PIF, dengan aset sekitar US$941 miliar, “tidak diperkirakan akan merevisi rencana investasi jangka panjang karena lanskap geopolitik saat ini.”
Namun penyesuaian sudah terjadi. PIF melakukan “rebalancing paksa terbesar dalam sejarahnya,” termasuk memangkas anggaran megaproyek hingga 60% dan mengalihkan dana ke sektor pertahanan, ketahanan pangan, dan kecerdasan buatan.
Uni Emirat Arab mencoba menjaga pesan stabilitas. Duta Besar Yousef Al Otaiba menyatakan kerangka investasi US$1,4 triliun dengan AS tetap berjalan sesuai rencana.
Nada berbeda datang dari Doha. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengakui tekanan ekonomi yang meningkat.
"Karena tantangan ekonomi yang akan kita hadapi sebagai akibat dari perang, dan berkurangnya kepercayaan terhadap stabilitas Teluk, kita akan disibukkan dengan pemulihan, penguatan kapabilitas pertahanan, dan penanganan krisis regional yang mendesak," ujarnya.
Trump sendiri mengklaim membawa pulang komitmen investasi hingga US$2 triliun dari Qatar dan jumlah serupa dari UEA. Janji tersebut kini berada dalam ketidakpastian di tengah upaya pemerintahannya merespons konflik yang berkembang lebih lama dari perkiraan.

0Komentar