Layar TV menunjukkan gambar file peluncuran rudal Korea Utara selama program berita di Stasiun Kereta Api Seoul di Seoul, Korea Selatan, Selasa, 27 Januari 2026. | AP PHOTO/AHN YOUNG-JOON

Korea Utara kembali menembakkan rudal balistik pada Sabtu (15/3), di saat Amerika Serikat dan Korea Selatan menjalankan latihan militer gabungan tahunan mereka. Menurut Kementerian Pertahanan Jepang, proyektil tersebut jatuh di Laut Jepang di luar zona ekonomi eksklusif Jepang dan tidak menimbulkan kerusakan.

Peluncuran ini menjadi uji coba rudal balistik pertama Pyongyang sejak akhir Januari sekaligus yang ketiga pada tahun ini. Otoritas Jepang mengatakan rudal tersebut diluncurkan ke arah timur sebelum akhirnya jatuh ke laut.

Eskalasi di tengah latihan Freedom Shield

Uji coba itu berlangsung ketika latihan militer Freedom Shield 26 sedang digelar di Semenanjung Korea. Latihan gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan ini berlangsung pada 9–19 Maret dan melibatkan sekitar 18.000 personel militer Korea Selatan bersama pasukan AS.

Menurut Washington dan Seoul, latihan tersebut bersifat defensif. Simulasi yang dilakukan mencakup skenario pos komando berbasis komputer serta puluhan latihan lapangan.

Namun Pyongyang secara rutin mengecam latihan gabungan itu sebagai latihan untuk invasi ke wilayahnya. Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Utara kerap merespons manuver militer tersebut dengan serangkaian uji coba senjata.

Layar TV menunjukkan gambar file peluncuran rudal Korea Utara selama program berita di Stasiun Kereta Api Seoul di Seoul, Korea Selatan, Selasa, 27 Januari 2026. | AP PHOTO/AHN YOUNG-JOON

Beberapa hari sebelum peluncuran rudal balistik terbaru, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un juga mengawasi dua uji coba rudal jelajah dari kapal perusak baru berbobot 5.000 ton bernama Choe Hyon. Uji coba itu berlangsung pada 4 dan 10 Maret.

Media pemerintah Korea Utara melaporkan bahwa rudal jelajah tersebut menghantam sasaran di pulau-pulau di Laut Kuning.

Adik perempuan Kim sekaligus pejabat senior Korea Utara, Kim Yo Jong, memperingatkan bahwa latihan militer sekutu dapat membawa “konsekuensi yang mengerikan”.

Ia menuduh Washington dan Seoul melakukan “pamer kekuatan” di dekat perbatasan Korea Utara.

Sinyal diplomasi yang saling bertentangan

Peluncuran rudal ini terjadi di tengah sinyal diplomatik yang bercampur dari Pyongyang.

Dalam kongres langka Partai Buruh bulan lalu, Kim Jong Un menyatakan Korea Utara bisa “menjalin hubungan baik” dengan Washington. Pernyataan itu memunculkan spekulasi kemungkinan pembicaraan baru dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sehari sebelum peluncuran rudal, Perdana Menteri Korea Selatan Kim Min-seok bertemu Trump di Gedung Putih. Menurut laporan The Korea Times, Trump menanyakan apakah pemimpin Korea Utara tertarik membuka kembali perundingan dengan AS.

Trump menunjukkan “minat yang besar” terhadap kemungkinan dialog tersebut, di tengah spekulasi bahwa isu Korea Utara dapat muncul dalam pertemuan Trump dengan pemimpin China Xi Jinping di Beijing pada akhir bulan ini.

Uji coba rudal balistik oleh Korea Utara melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang melarang negara itu mengembangkan atau menguji teknologi tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pyongyang terus memperluas program persenjataannya. Para analis menilai pengembangan itu bertujuan meningkatkan kemampuan serangan presisi terhadap AS dan sekutunya serta memperkuat posisi tawar Korea Utara dalam negosiasi keamanan regional.

Korea Utara terakhir kali menembakkan rudal balistik pada 27 Januari. Saat itu dua rudal jarak pendek dilaporkan terbang sekitar 350 kilometer sebelum jatuh di laut di lepas pantai timur laut negara tersebut.