Ilustrasi peluncuran sistem pertahanan udara Iran di dekat kota Isfahan pada April 2024. IRNA


Serangan rudal kelompok Houthi dari Yaman ke Israel menandai meluasnya konflik Iran ke arena yang lebih luas, di tengah pengerahan tambahan pasukan Amerika Serikat (AS) ke Timur Tengah dan meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Kelompok Houthi, yang bersekutu dengan Iran, meluncurkan serangan pada Sabtu (28/3), menjadi aksi pertama mereka terhadap Israel sejak konflik pecah akhir Februari. Militer Israel mengonfirmasi satu rudal ditembakkan dari wilayah Yaman, tanpa laporan korban atau kerusakan.

Langkah ini memperluas jangkauan konflik yang sebelumnya dipicu oleh serangan awal AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari. Sejak itu, eskalasi terus meningkat, dengan dampak yang mulai terasa pada jalur pelayaran strategis dan pasar energi global.

Di saat bersamaan, Washington mengirim ribuan Marinir ke kawasan. Militer AS menyebut gelombang pertama dari dua kontingen telah tiba pada Jumat menggunakan kapal serbu amfibi. Laporan The Washington Post menyebut Pentagon tengah menyiapkan opsi operasi darat di Iran, meski keputusan akhir masih berada di tangan Presiden Donald Trump.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan tujuan AS bisa dicapai tanpa pengerahan pasukan darat, namun tidak menutup kemungkinan opsi tersebut. 

“Sebagian pasukan tetap dikerahkan agar Trump memiliki fleksibilitas maksimal dalam menyesuaikan strategi,” ujarnya.

Di kawasan, upaya diplomasi berjalan bersamaan dengan eskalasi militer. Presiden Iran Masoud Pezeshkian berbicara dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, menjelang pertemuan di Islamabad yang melibatkan menteri luar negeri Turki dan Arab Saudi untuk meredakan ketegangan.

Houthi buka jalur serangan baru

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan kelompoknya telah melakukan dua serangan terhadap Israel dalam waktu kurang dari 24 jam. “Kami akan melanjutkan serangan,” katanya.

Serangan dari Yaman ini memperlihatkan kemampuan Houthi menjangkau target jarak jauh, sekaligus memperbesar risiko terhadap jalur pelayaran di Laut Merah dan sekitarnya. Ancaman itu datang di saat Selat Hormuz praktis tidak beroperasi normal.

Ancaman Iran terhadap kapal yang melintas membuat banyak tanker minyak memilih menghindari rute tersebut. Meski begitu, sejumlah kapal masih berhasil melintas, termasuk kapal berbendera Pakistan dan India setelah mendapat jaminan keamanan dari Teheran.

“Iran menyetujui tambahan 20 kapal berbendera Pakistan untuk melintas, dengan dua kapal diizinkan per hari,” kata Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar.

Serangan meluas dan risiko nuklir

Serangan juga dilaporkan meluas ke berbagai titik di kawasan Teluk. Iran disebut menargetkan wilayah Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Oman. Di Israel, serangan udara menghantam desa Eshtaol dekat Yerusalem, melukai tujuh orang.

Fasilitas industri turut terdampak. Perusahaan Aluminium Bahrain (Alba) mengonfirmasi salah satu fasilitasnya menjadi sasaran serangan Iran pada Sabtu.

Di sisi lain, Israel terus menargetkan infrastruktur nuklir Iran. Kepala perusahaan nuklir Rusia Rosatom, yang telah mengevakuasi staf dari pembangkit Bushehr, memperingatkan bahwa serangan tersebut menimbulkan risiko keselamatan nuklir.

Di Iran, media lokal melaporkan sedikitnya lima orang tewas akibat serangan AS-Israel di kota Zanjan. Di Teheran, Universitas Sains dan Teknologi Iran juga dilaporkan terkena serangan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya akan merespons keras jika infrastruktur ekonomi diserang. “Iran akan membalas dengan keras,” katanya.

Tekanan politik dan pasar

Di dalam negeri AS, konflik yang berkepanjangan mulai memicu tekanan politik. Dengan pemilu paruh waktu yang dijadwalkan November, perang ini menjadi beban bagi Partai Republik.

Aksi demonstrasi anti-perang digelar di sejumlah kota di AS pada Sabtu, menuntut penghentian konflik. Trump sendiri mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz, namun memperpanjang tenggat waktu selama 10 hari.

Ketidakpastian ini memicu kekhawatiran di pasar global, terutama terkait pasokan energi, yang semakin rentan terhadap gangguan seiring meluasnya konflik di Timur Tengah.