Pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat C-17 Globemaster saat diparkir di Pangkalan Udara Al Udeid, Doha, Qatar, 7 September 2021.(AFP/POOL/OLIVIER DOULIERY)


Serangkaian serangan balasan Iran terhadap instalasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah memicu perdebatan baru di kalangan analis keamanan mengenai potensi konflik yang lebih besar di Asia. Sejumlah pengamat menilai pola serangan tersebut memberi gambaran tentang bagaimana China dapat menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS jika krisis di Selat Taiwan berubah menjadi konflik terbuka.

Sejak kampanye militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, sedikitnya 11 pangkalan atau fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan rudal dan drone Iran. Data tersebut berasal dari analisis yang dipublikasikan The New York Times pada 11 Maret.

Jumlah itu mewakili sekitar setengah dari seluruh instalasi militer Amerika di kawasan tersebut. Kerusakan yang dilaporkan mencakup hancurnya sistem radar peringatan dini senilai sekitar US$1,1 miliar di dekat Umm Dahal, Qatar, serta kerugian sekitar US$200 juta pada markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.

Serangan-serangan itu dinilai para analis sebagai contoh nyata kerentanan jaringan pangkalan militer Amerika di luar negeri ketika menghadapi serangan rudal presisi dan drone.

Lyle Goldstein, peneliti senior di Watson School of International and Public Affairs Universitas Brown, mengatakan pola serangan Iran memberikan petunjuk mengenai kemungkinan strategi yang dapat digunakan China dalam konflik di Asia Timur.

“Langkah-langkah Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia benar-benar menyoroti kemungkinan bahwa dalam skenario Taiwan, China kemungkinan besar akan menargetkan pangkalan-pangkalan AS di seluruh kawasan Asia-Pasifik,” katanya kepada South China Morning Post.

Peringatan yang lebih tegas datang dari Lyle Morris, peneliti senior di Centre for China Analysis milik Asia Society Policy Institute. Menurutnya, kemampuan militer China berpotensi menghasilkan kerusakan yang jauh lebih besar.

“China akan mampu menimbulkan kerusakan yang jauh lebih besar dan dengan presisi yang lebih tinggi pada pangkalan-pangkalan AS di Asia dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan Iran di Timur Tengah hingga saat ini,” ujarnya.

Kekhawatiran tersebut muncul pada saat Washington dilaporkan mengalihkan sebagian aset militernya dari Asia Timur ke Timur Tengah untuk menghadapi konflik yang sedang berlangsung dengan Iran.

Gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah beroperasi di Laut Arab sejak akhir Februari untuk mendukung operasi militer yang dikenal sebagai Operasi Epic Fury.

Selain itu, menurut laporan The Washington Post, Pentagon juga memindahkan sejumlah komponen sistem pertahanan rudal THAAD dan pencegat Patriot dari Korea Selatan ke kawasan Teluk guna memperkuat perlindungan terhadap pangkalan AS di sana.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengakui langkah tersebut dalam rapat kabinet. Ia mengatakan pemerintahnya telah menyampaikan keberatan kepada Washington, meskipun pengaruh Seoul dalam keputusan tersebut terbatas.

“Tidak bisa membuat posisi kami sepenuhnya tercermin dalam setiap kasus,” kata Lee.

Di Beijing, sejumlah analis melihat pengalihan aset militer itu sebagai faktor yang dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di Asia-Pasifik.

Li Yihu, dekan Institute for Taiwan Studies di Universitas Peking, mengatakan setiap pengurangan kehadiran militer AS di kawasan tersebut dapat memberi keuntungan strategis bagi pihak tertentu.

“Setiap pelemahan kehadiran AS di Asia-Pasifik pada akhirnya akan menguntungkan pihak tertentu — dan Anda bisa membayangkan siapa pihak itu,” ujarnya.

Meski demikian, tidak semua pengamat melihat situasi ini sebagai pertanda konflik yang segera terjadi di Selat Taiwan.

Sebuah laporan yang diterbitkan Hudson Institute pada Februari memperingatkan bahwa serangan rudal China berpotensi melumpuhkan landasan pacu yang digunakan militer AS di Jepang selama sekitar 12 hari pada tahap awal konflik. Namun laporan yang sama juga mencatat bahwa kemampuan pertahanan Jepang yang terus berkembang dapat mengurangi dampak tersebut.

Tokyo berencana mengoperasikan 147 jet tempur siluman F-35, menjadikannya operator internasional terbesar pesawat tersebut. Jepang juga mulai menempatkan varian F-35B di pangkalan yang lebih dekat dengan gugus Kepulauan Nansei, wilayah yang berada dalam jangkauan Selat Taiwan.

Angkatan Udara AS sendiri telah menempatkan 48 jet F-35A di Pangkalan Udara Misawa di Jepang utara sebagai bagian dari penguatan kehadiran militer di kawasan itu.

Laporan Asia Times menyebut konflik yang berkepanjangan dengan Iran berpotensi mengalihkan perhatian Washington dari Asia, yang dalam teori dapat membuka ruang bagi Beijing untuk mengambil langkah lebih berani.

Namun laporan yang sama juga menyoroti operasi serangan presisi AS terhadap kepemimpinan Iran dalam konflik terbaru, yang menunjukkan kemampuan intelijen dan teknologi militer Washington.

Sean King, wakil presiden senior Park Strategies, mengatakan kalkulasi strategis Beijing kemungkinan mempertimbangkan faktor tersebut.

“Xi kemungkinan berasumsi AS akan membela Taiwan, sehingga serangan kecil kemungkinan terjadi untuk saat ini,” katanya.