![]() |
| unit peluncur THAAD (Terminal High Altitude Area Defense), sebuah sistem pertahanan rudal antibalistik canggih milik Amerika Serikat. | US AIR FORCE |
Pentagon dilaporkan memindahkan komponen sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan ke Timur Tengah setelah sebuah radar penting dihancurkan dalam serangan Iran terhadap fasilitas militer Amerika di kawasan tersebut.
Laporan Bloomberg yang mengutip pejabat Amerika Serikat menyebutkan Iran menghancurkan setidaknya satu radar AN/TPY-2 radar di Muwaffaq Salti Air Base, Yordania, pada hari-hari awal kampanye serangan balasan Teheran terhadap instalasi militer AS di Timur Tengah.
Radar bernilai sekitar US$300 juta itu merupakan komponen inti dari sistem THAAD. Citra satelit menunjukkan dua kawah berdiameter sekitar 13 kaki dan sebuah trailer yang terbakar di lokasi radar, menandakan sistem tersebut hancur.
THAAD adalah salah satu sistem pertahanan rudal balistik utama milik AS. Radar AN/TPY-2 berfungsi mendeteksi dan melacak rudal musuh sebelum sistem meluncurkan pencegat untuk menghancurkannya di fase terminal penerbangan.
Menurut analis persenjataan N.R. Jenzen-Jones dari Armament Research Services yang dikutip CNN, radar itu merupakan komponen paling vital dari sistem tersebut.
“Radar AN/TPY-2 pada dasarnya adalah jantung dari baterai THAAD, yang memungkinkan peluncuran rudal pencegat dan berkontribusi pada gambaran pertahanan udara yang terjaringan,” ujarnya.
Tanpa radar yang berfungsi, baterai THAAD praktis tidak dapat beroperasi. Dalam kondisi seperti itu, sistem pertahanan udara lain seperti Patriot missile system harus menanggung beban lebih besar, meski pasokan pencegat PAC-3 interceptor disebut terbatas.
Serangan terhadap infrastruktur pertahanan AS itu terjadi setelah konflik meningkat tajam pada akhir Februari. Iran mulai meluncurkan serangan balasan pada 28 Februari setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan operasi militer gabungan terhadap target di dalam wilayah Iran.
Menurut laporan The New York Times, Teheran menembakkan rudal balistik dan drone ke fasilitas militer AS di sedikitnya enam negara di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Yordania.
Analisis citra satelit yang dilakukan oleh CNN juga menunjukkan kerusakan di beberapa lokasi yang terkait dengan THAAD di Uni Emirat Arab, termasuk fasilitas perlindungan komponen radar di Al Ruwais dan Sader yang diserang antara 28 Februari hingga 1 Maret.
Di tengah kerusakan tersebut, Pentagon mulai memindahkan sebagian sistem THAAD dari Korea Selatan ke Timur Tengah.
Langkah itu dilakukan dengan memindahkan sebagian sistem yang ditempatkan di Seongju. Media Korea Selatan The Hankyoreh menyebut baterai yang direlokasi terdiri dari enam peluncur.
Pergerakan itu terdeteksi melalui aktivitas pesawat angkut militer besar di Osan Air Base, termasuk C-5 Galaxy dan C-17 Globemaster III yang digunakan untuk mengangkut komponen sistem tersebut.
Relokasi itu memicu keberatan dari pemerintah Korea Selatan.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengatakan pemerintahnya telah menyampaikan penolakan kepada Washington, meski mengakui Seoul tidak sepenuhnya bisa menghentikan keputusan tersebut.
“Merupakan kenyataan yang tak terbantahkan bahwa sikap kami tidak dapat sepenuhnya diterapkan,” kata Lee dalam rapat kabinet pada 10 Maret.
Sejumlah analis keamanan memperingatkan bahwa pemindahan baterai THAAD dapat membuka celah dalam pertahanan Korea Selatan terhadap kemampuan rudal Korea Utara yang terus berkembang.
Pejabat Pentagon, menurut laporan Washington Post, mengatakan relokasi ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi eskalasi lebih lanjut dari Iran di Timur Tengah.

0Komentar