![]() |
| Drone Shahed-136, sebuah wahana udara nirawak (UAV) jenis "kamikaze" atau amunisi loitering yang dikembangkan oleh Iran. IRNA |
Militer Amerika Serikat untuk pertama kalinya mengerahkan unit drone serang sekali pakai berbiaya rendah dalam operasi tempur terhadap Iran. Unit yang diberi nama Task Force Scorpion Strike itu dinyatakan siap operasional pekan lalu dan dilaporkan telah digunakan dalam serangan awal, menurut pejabat pertahanan dan laporan The War Zone.
Satuan ini mengoperasikan drone LUCAS (Low-Cost Uncrewed Combat Attack System), sistem tanpa awak yang dikembangkan dari hasil rekayasa balik drone Shahed-136 buatan Iran. Bloomberg pada 26 Februari melaporkan bahwa unit tersebut telah disiapkan untuk operasi apabila Presiden Donald Trump memerintahkan serangan ke Iran. Sehari kemudian, drone itu disebut telah digunakan dalam pertempuran.
Pengembangan LUCAS bermula dari drone Shahed-136 yang rusak dan berhasil diamankan pasukan AS beberapa tahun lalu. Insinyur Amerika membongkar sistem tersebut dan membangunnya kembali menggunakan teknologi dalam negeri, termasuk sistem kendali penerbangan otonom serta kemampuan beroperasi tanpa GPS.
"Militer AS berhasil mendapatkan sebuah Shahed Iran. Kami mempelajarinya dan merekayasa baliknya," ujar seorang pejabat pertahanan AS kepada The War Zone pada Desember. "Drone LUCAS adalah hasil dari upaya tersebut. Desainnya pada dasarnya mengikuti desain Shahed."
Drone bersayap delta ini memiliki panjang sekitar 10 kaki dan bentang sayap delapan kaki. Produksinya dilakukan oleh perusahaan SpektreWorks yang berbasis di Arizona dengan biaya sekitar US$35.000 per unit—jauh lebih murah dibandingkan rudal jelajah Tomahawk yang harganya mencapai jutaan dolar.
Komando Pusat AS (U.S. Central Command/CENTCOM) mengumumkan pembentukan Task Force Scorpion Strike pada awal Desember 2025, empat bulan setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth memerintahkan percepatan pengadaan drone terjangkau. Unit ini beranggotakan sekitar dua lusin personel di bawah Komando Operasi Khusus.
Sistem peluncurannya fleksibel. Drone dapat dilepaskan menggunakan ketapel, dari truk, sistem lepas landas berbantuan roket, hingga dari kapal. Salah satu uji coba dilakukan dari USS Santa Barbara di Teluk Arab pada pertengahan Desember.
Konsep operasionalnya menitikberatkan pada taktik swarm, yakni pengerahan sejumlah drone secara simultan untuk membanjiri sistem pertahanan lawan. Dengan koordinasi otonom, serangan dapat diluncurkan dari berbagai lokasi dalam waktu hampir bersamaan.
Penggunaan drone murah dalam jumlah besar menjadi pelajaran dari konflik beberapa tahun terakhir. Iran memasok drone Shahed ke Rusia untuk digunakan dalam perang di Ukraina, dan kelompok-kelompok proksi Teheran juga menggunakannya terhadap target di Israel. Serangan-serangan tersebut menunjukkan bahwa sistem murah yang diproduksi massal dapat menguras dan menekan pertahanan udara yang mahal.
Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyebut inisiatif ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya tangkal. "Melengkapi pasukan kita dengan kemampuan drone mutakhir lebih cepat menunjukkan inovasi dan kekuatan militer AS, yang memberikan efek jera kepada aktor-aktor jahat," katanya dalam pengumuman pada Desember.
Analis pertahanan mencatat LUCAS membawa hulu ledak sekitar 40 pon, relatif kecil untuk menghantam sasaran militer yang diperkuat. Namun sistem ini dinilai memadai untuk menargetkan fasilitas produksi rudal, lokasi peluncuran, atau infrastruktur tertentu yang tidak memiliki perlindungan berat.

0Komentar