Presiden AS Donald Trump, kiri, dan Sanae Takaichi, perdana menteri Jepang, selama upacara penandatanganan dokumen tentang implementasi kesepakatan perdagangan AS-Jepang di wisma negara Istana Akasaka di Tokyo, Jepang, pada hari Selasa, 28 Oktober 2025. (Kiyoshi Ota/Pool via REUTERS / Reuters)


Jepang dan Amerika Serikat bersiap mengumumkan kerja sama pengembangan mineral kritis termasuk tanah jarang, lithium, dan tembaga dalam pertemuan puncak yang dijadwalkan berlangsung pekan ini di Washington.

Laporan Nikkei Business Daily menyebut kesepakatan tersebut akan melibatkan proyek pemurnian tanah jarang di Indiana serta pengembangan tambang lithium di North Carolina. Sejumlah perusahaan Jepang, seperti Mitsubishi Materials dan Mitsui & Co, disebut akan ambil bagian dalam inisiatif ini.

Kesepakatan itu direncanakan diumumkan saat Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi bertemu Presiden Donald Trump pada 19 Maret.

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari kerangka kerja mineral kritis bilateral yang disepakati kedua negara di Tokyo pada Oktober 2025. Dalam perjanjian itu, Tokyo dan Washington sepakat mengidentifikasi celah rantai pasokan, menggalang pendanaan publik dan swasta, serta mempercepat proses perizinan proyek strategis.

Selain proyek spesifik, kedua pemimpin juga diperkirakan akan memfinalisasi rencana aksi untuk kerja sama yang lebih luas di antara negara-negara Kelompok Tujuh. 

Rencana tersebut dapat mencakup tarif tambahan terhadap impor mineral kritis dari China.

Laporan lain dari Bloomberg menyebut AS, Jepang, dan Uni Eropa tengah menyiapkan kerangka perdagangan yang mencakup penetapan price floor guna menahan distorsi pasar global.

Mengurangi ketergantungan terhadap China

Dorongan memperkuat pasokan alternatif ini datang di tengah dominasi China dalam rantai pasok global. Beijing menguasai sekitar 70% produksi tambang tanah jarang dunia dan hampir 90% kapasitas pemurniannya—posisi yang memberi pengaruh besar dalam industri teknologi dan pertahanan.

Jepang dalam beberapa bulan terakhir juga aktif memperluas diplomasi mineralnya. Reuters melaporkan Tokyo menjajaki kerja sama dengan India untuk eksplorasi deposit di Rajasthan. Sementara perusahaan Lynas Rare Earths memperpanjang kontrak pasokan neodymium-praseodymium bagi pembeli Jepang hingga 2038.

Di AS, Ramaco Resources mengungkap telah berdiskusi dengan sejumlah perusahaan Jepang, termasuk Sumitomo Corporation dan Iwatani Corporation, terkait potensi pasokan dari tambang di Wyoming.

Rangkaian inisiatif ini mencerminkan upaya kedua negara membangun rantai pasokan baru, terutama menjelang rencana pembatasan penggunaan mineral asal China dalam rantai pasok pertahanan AS mulai tahun depan.