Foto seorang prajurit Rusia yang berdiri di samping kotak Starlink dan tank Rusia yang hancur.

Terminal Starlink yang digunakan unit militer Rusia dilaporkan mati total pada Rabu (4/1) di sepanjang garis depan perang di Ukraina, mengganggu komunikasi dan menghentikan sejumlah operasi serangan. Gangguan ini dikonfirmasi oleh pejabat Ukraina dan blogger militer Rusia, yang menyebut konektivitas satelit tidak dapat dipulihkan meski perangkat di-reboot berulang kali.

Penasihat Menteri Pertahanan Ukraina untuk urusan teknologi, Serhii “Flash” Beskrestnov, mengatakan hilangnya koneksi Starlink telah melumpuhkan koordinasi pasukan Rusia di medan tempur. Ia menyebut situasi tersebut berdampak langsung pada kemampuan komando dan kendali di berbagai sektor.

“Bagi musuh di garis depan, ini bukan hanya masalah — ini adalah bencana. Komando dan kendali telah benar-benar runtuh. Operasi serangan telah dihentikan di banyak wilayah,” ujar Beskrestnov kepada Ukrainska Pravda pada Kamis.

Gangguan ini juga dikonfirmasi oleh sejumlah blogger militer Rusia. Salah satu kanal pro-Kremlin menyebut situasi tersebut “secara efektif telah kembali ke Februari 2022, ketika terjadi ketiadaan koordinasi total antara unit-unit Rusia”.

SpaceX menerapkan langkah darurat

Pemutusan layanan terjadi setelah SpaceX menerapkan langkah darurat pada akhir Januari, menyusul laporan Kementerian Pertahanan Ukraina tentang ratusan serangan drone Rusia yang dilengkapi terminal Starlink. Drone tersebut, termasuk model BM-35 dan Molniya-2, dilaporkan menyerang target sipil, termasuk kereta penumpang di wilayah Kharkiv.

SpaceX lebih dulu memberlakukan pembatasan kecepatan 75–90 km/jam, yang secara otomatis memutus koneksi terminal yang bergerak di atas batas tersebut. Drone sayap tetap Rusia umumnya melaju 180–270 km/jam, sehingga tidak dapat mempertahankan akses ke jaringan Starlink.

Elon Musk pada 1 Februari menyatakan langkah tersebut efektif dalam mencegah penggunaan Starlink oleh Rusia secara tidak sah.

“Langkah-langkah yang kami ambil untuk menghentikan penggunaan Starlink secara tidak sah oleh Rusia telah berhasil,” tulis Musk.

Selain pembatasan kecepatan, Ukraina dan SpaceX menerapkan sistem whitelist berdasarkan resolusi kabinet Ukraina. Melalui mekanisme ini, hanya terminal yang terverifikasi dan terdaftar resmi yang dapat beroperasi di wilayah Ukraina, sementara perangkat lain otomatis diputus dari jaringan.

Jaringan Starlink Rusia

Investigasi Nordsint mengungkap Rusia memperoleh terminal Starlink melalui jaringan pihak ketiga dan penyelundup yang beroperasi lewat Uni Emirat Arab, Belanda, dan Hong Kong. Terminal tersebut diaktifkan menggunakan akun pelanggan yang terdaftar di negara ketiga untuk menghindari pemblokiran.

Keberadaan Starlink di drone Rusia sebelumnya meningkatkan efektivitas serangan karena sistem ini relatif tahan terhadap peperangan elektronik Ukraina, yang biasanya mengganggu sinyal GPS dan radio. 

Mengutip Kyiv Independent, Menteri Transformasi Digital Ukraina, Mykhailo Fedorov, mengatakan drone yang dilengkapi Starlink sulit ditembak jatuh karena dapat dikendalikan secara real-time dari jarak jauh dan terbang di ketinggian rendah.

Fedorov memuji kerja sama dengan pimpinan SpaceX, termasuk Presiden Gwynne Shotwell dan Elon Musk, atas respons cepat terhadap ancaman tersebut. Ia menambahkan bahwa sejak pembatasan darurat diberlakukan, tidak ada laporan warga Ukraina tewas akibat drone Rusia yang menggunakan Starlink.

Di sisi lain, sebagian unit Ukraina juga sempat mengalami gangguan layanan Starlink. Namun, menurut Beskrestnov, konektivitas bagi terminal yang telah terdaftar resmi kini “secara bertahap sedang dipulihkan”.