Fasilitas pengayaan atom pusat penelitian nuklir Natanz, sekitar 300 kilometer selatan Teheran. | IRNA

Rusia kembali menawarkan diri sebagai perantara dalam sengketa program nuklir Iran, dengan membuka opsi mengekspor uranium hasil pengayaan Iran ke wilayahnya di tengah persiapan pembicaraan Tehran dan Washington pada Jumat (6/2) di Oman.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan inisiatif tersebut masih tersedia, namun keputusan sepenuhnya berada di tangan Iran. Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan dan dikutip Reuters.

“Rusia pernah menawarkan untuk mengekspor cadangan uranium hasil pengayaan Iran ke wilayahnya. Inisiatif ini masih tersedia,” kata Zakharova.

Ia menambahkan, “Hanya Iran yang berhak untuk menentukan nasibnya, termasuk memutuskan apakah akan mengekspornya ke luar wilayah Iran dan, jika keputusannya positif, ke mana mengekspornya atau tidak.”

Tawaran itu muncul ketika kanal diplomasi terkait program nuklir Iran kembali dibuka setelah ketegangan militer beberapa bulan terakhir dan meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat serta sekutunya.

Secara terpisah, Kremlin menempatkan langkah tersebut dalam kerangka mediasi. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut Rusia telah lama menawarkan peran tersebut sebagai jembatan komunikasi antara Washington dan Tehran.

Moskwa, kata Peskov, telah “menawarkan jasanya untuk waktu yang cukup lama sebagai opsi yang dapat menghilangkan hambatan-hambatan tertentu bagi sejumlah negara”.

Pada Juni 2025, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov juga menyatakan kesiapan negaranya menerima uranium hasil pengayaan tinggi Iran untuk diproses menjadi bahan bakar reaktor sipil. Ia menegaskan Rusia siap membantu bukan hanya secara politik, tetapi juga secara praktis dalam proses negosiasi.

Dalam diplomasi nuklir, skema pemindahan material semacam itu dikenal sebagai cara membatasi stok uranium yang dapat diperkaya lebih lanjut sekaligus menyediakan jalur pemanfaatan sipil.

Di sisi lain, pejabat Iran secara terbuka menolak gagasan memindahkan material nuklir ke luar negeri. Ali Bagheri, pejabat kebijakan luar negeri di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menegaskan awal pekan ini isu tersebut tidak masuk agenda perundingan.

“Pejabat Iran tidak berniat mentransfer material nuklir yang telah diperkaya ke luar negeri,” ujarnya, seraya menyebut negosiasi yang berjalan “tidak membahas masalah ini”.

Namun, laporan Reuters pada 2 Februari mengutip seorang pejabat Iran yang tak disebut namanya menyatakan Tehran bersedia menerima nol pengayaan dalam skema perjanjian konsorsium dan menyerahkan sekitar 400 kilogram uranium yang sangat diperkaya. Informasi itu menunjukkan adanya perbedaan sinyal antara pernyataan publik dan dinamika di balik layar.

Manuver diplomatik berlangsung ketika pejabat AS dan Iran bersiap menggelar pertemuan langsung pertama sejak konflik singkat selama 12 hari pada Juni lalu. Dalam periode tersebut, pasukan AS dan Israel menyerang sejumlah fasilitas nuklir Iran, termasuk lokasi pengayaan bawah tanah di Fordow.

Pertemuan terbaru dijadwalkan sementara pada Jumat di Turki. Iran dilaporkan mendorong agar lokasi dipindahkan ke Oman serta membatasi pembahasan hanya pada program nuklir.

Presiden Donald Trump sebelumnya menyebut AS telah mengerahkan “armada besar-besaran” ke Teluk Persia dan memperingatkan “hal-hal buruk” bisa terjadi jika tidak ada kesepakatan. Iran merespons dengan peringatan bahwa setiap serangan AS akan dibalas secara cepat dan menyeluruh.