![]() |
| Satelit internet Starlink milik SpaceX yang terlihat selama proses penyebaran atau pelepasan dari roket Falcon 9 di orbit rendah Bumi. | SPACEX |
Otoritas Prancis menangkap empat orang, termasuk dua warga negara Tiongkok, atas dugaan spionase terkait upaya pengumpulan data satelit dari jaringan Starlink serta informasi dari entitas sensitif, menurut pengumuman kantor kejaksaan publik Paris pada Rabu (4/2).
Divisi kejahatan siber membuka penyelidikan yudisial pada 4 Februari. Jaksa menyebut dua warga Tiongkok tersebut memasuki wilayah Prancis dengan tujuan menangkap data satelit Starlink dan data dari entitas yang dinilai sangat penting, terutama sektor militer, untuk kemudian mengirimkannya ke Tiongkok.
Keempat tersangka telah dibawa menghadap hakim penyidik, dan dua di antaranya ditempatkan dalam tahanan.
Perkara ini muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap aktivitas intelijen asing di Prancis. Pada Januari 2026, seorang profesor matematika terapan Prancis di sebuah institut teknik universitas di Bordeaux didakwa setelah mengizinkan delegasi Tiongkok mengunjungi lokasi sensitif yang terlarang. Sejumlah media Prancis melaporkan ia menghadapi ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara atas tuduhan memberikan informasi kepada kekuatan asing.
Di sisi lain, Beijing membantah tudingan tersebut. Pada Januari, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning menyatakan pemerintahnya menentang pembesar-besaran klaim spionase dan pencemaran nama baik terhadap Tiongkok, saat isu aktivitas intelijen negara itu ramai dibahas di sejumlah negara Eropa.
Jaringan satelit Starlink yang dioperasikan SpaceX juga menjadi perhatian strategis bagi Tiongkok. Pemerintah dan peneliti militer Tiongkok menerbitkan sejumlah makalah yang membahas cara menghadapi satelit tersebut, yang dinilai berpotensi mendukung kemampuan militer Amerika Serikat. Sistem satelit komersial karenanya masuk dalam kalkulasi keamanan sejumlah negara.
Kekhawatiran serupa disuarakan pejabat militer Barat terkait ancaman terhadap jaringan satelit komersial yang melayani ratusan juta pengguna global. Uni Eropa mengembangkan konstelasi satelitnya sendiri melalui inisiatif IRIS2 untuk mengurangi ketergantungan pada sistem milik AS.
Christophe Grudler, anggota Parlemen Eropa dari Prancis yang memimpin kerja legislatif proyek tersebut, mengatakan kepada media bahwa Eropa tetap sekutu Amerika Serikat namun perlu memiliki otonomi strategis sendiri.
“Risikonya adalah tidak memiliki nasib kita di tangan kita sendiri,” ujarnya.
Prancis dalam beberapa waktu terakhir juga mencatat peningkatan kasus yang berkaitan dengan dugaan operasi intelijen asing. Pada November 2025, otoritas setempat menangkap empat orang terkait dugaan jaringan spionase Rusia, termasuk anggota organisasi pro-Rusia SOS Donbass. Presiden Prancis Emmanuel Macron saat itu menyebut Rusia tengah melakukan “perang hibrid” terhadap negara-negara Eropa.
Unit kejahatan siber kejaksaan Paris yang menangani perkara Starlink turut terlibat dalam sejumlah penyelidikan lain. Pada 3 Februari, unit tersebut melakukan penggeledahan di kantor X Prancis dalam perkara terpisah, menurut keterangan otoritas setempat.

0Komentar