![]() |
| Para demonstran berjalan menuju kedutaan Iran selama unjuk rasa mendukung protes nasional di Iran, di London, Inggris, 11 Januari 2026. | REUTERS/ISABEK INFANTES |
Ratusan ribu orang turun ke jalan di sejumlah kota besar dunia pada Sabtu (14/2) dalam Hari Aksi Global yang digelar untuk menunjukkan solidaritas terhadap demonstran anti-pemerintah di Iran. Polisi Toronto memperkirakan lebih dari 200.000 orang mengikuti pawai di Jalan Yonge, North York. Di Jerman, kepolisian Munich menyebut sekitar 200.000 orang berkumpul di area pameran Theresienwiese.
Mengutip New York Times, Aksi serentak ini digelar menyusul seruan Pangeran Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, yang meminta komunitas internasional meningkatkan tekanan terhadap pemerintah di Teheran. Selain Toronto dan Munich, demonstrasi juga dilaporkan berlangsung di Los Angeles, Sydney, Melbourne, London, Athena, hingga Tokyo.
Gelombang protes tersebut muncul di tengah laporan penindasan berdarah terhadap aksi-aksi unjuk rasa di dalam negeri Iran yang telah berlangsung sejak akhir Desember. Awalnya, demonstrasi dipicu persoalan ekonomi dan anjloknya nilai tukar mata uang, namun kemudian meluas menjadi tuntutan pembubaran Republik Islam.
Berbicara di Munich Security Conference pada Sabtu (14/2), Pahlavi mendesak negara-negara demokrasi Barat mengambil langkah tegas terhadap pemerintah Iran. Dalam konferensi pers di sela forum itu, ia mempertanyakan sikap dunia internasional. “Kita berkumpul di saat yang sangat berbahaya untuk bertanya: Apakah dunia akan berpihak pada rakyat Iran?” katanya, seperti dikutip dari Associated Press, Minggu (15/2).
Ia juga memperingatkan bahwa sikap diam, menurutnya, akan memperkuat pemerintahan otoriter. “Keberlangsungan pemerintah Iran mengirimkan sinyal yang jelas kepada setiap penindas: bunuh cukup banyak orang dan Anda akan tetap berkuasa,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pahlavi menyampaikan pesan langsung kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. “Rakyat Iran mendengar Anda mengatakan bahwa bantuan akan datang, dan mereka percaya pada Anda. Bantulah mereka,” katanya.
Pernyataan itu muncul sehari setelah Trump, saat menghadiri konferensi yang sama, menyebut pergantian rezim di Iran “akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi”.
Di dalam Iran, situasi keamanan dilaporkan memburuk sejak puncak kerusuhan pada 8 dan 9 Januari. Pemerintah merespons aksi jalanan dengan kekuatan mematikan, menurut berbagai laporan organisasi pemantau hak asasi manusia.
Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS menyebut sedikitnya 7.003 orang tewas dan lebih dari 53.000 lainnya ditangkap dalam penindasan tersebut. Sementara itu, pemerintah Iran pada 21 Januari menyampaikan angka resmi yang jauh lebih rendah, yakni 3.117 kematian.
Di sisi lain, otoritas juga memberlakukan pemadaman internet luas sejak 8 Januari. Laporan menyebut sekitar 92 juta warga terdampak pembatasan akses layanan daring, menjadikannya salah satu pemutusan jaringan terbesar yang pernah tercatat.
Dalam beberapa pekan terakhir, aparat keamanan Iran dilaporkan terus melakukan penangkapan massal. Mereka yang ditargetkan mencakup mahasiswa, dokter, pengacara, jurnalis, guru, hingga politisi reformis yang terkait dengan Presiden Masoud Pezeshkian. Sejumlah laporan menyebut aparat menggunakan teknologi pengenalan wajah serta rekaman pengawasan untuk mengidentifikasi peserta aksi.
Di Toronto, aksi Sabtu itu merupakan lanjutan dari demonstrasi dua pekan sebelumnya yang menurut penyelenggara diikuti sekitar 150.000 orang di Sankofa Square. Sementara di Munich, para peserta meneriakkan slogan “Perubahan, perubahan, ganti rezim” dan mengibarkan bendera Iran pra-revolusi bergambar singa dan matahari. Sejumlah demonstran juga terlihat mengenakan topi merah bertuliskan “Make Iran Great Again”.

0Komentar