![]() |
| Abbas Aragchi, Menteri Luar Negeri Iran. |
Forum Al Jazeera ke-17 resmi dibuka di Doha, Qatar, Sabtu (8/2), mempertemukan pemimpin politik, pejabat, dan tokoh media dalam konferensi tiga hari yang membahas dampak konflik Gaza terhadap hukum internasional dan stabilitas kawasan. Agenda itu langsung memicu sorotan, terutama dari pihak Israel, terkait kehadiran Pelapor Khusus PBB Francesca Albanese dan pemimpin Hamas Khaled Mashaal dalam forum yang sama.
Pertemuan ini digelar saat perang di Gaza masih berlangsung dan perdebatan internasional soal akuntabilitas hukum serta dampak kemanusiaan terus menguat. Karena itu, forum tersebut mengangkat isu Gaza sebagai fokus utama diskusi, termasuk pengaruhnya terhadap tatanan hukum global dan kerja sama regional.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menjadi salah satu pembicara utama. Dalam pidatonya yang dikutip Al Jazeera, ia menyerukan sanksi internasional menyeluruh terhadap Israel, mulai dari embargo senjata, penghentian kerja sama militer dan intelijen, hingga pembatasan perdagangan. Ia juga mendorong sanksi yang menargetkan pejabat Israel.
"Apa yang kita saksikan bukanlah sekadar peperangan... Ini adalah penghancuran kehidupan sipil secara masif yang disengaja. Ini adalah genosida," kata Araghchi.
Lebih jauh, Araghchi menyebut isu Palestina sebagai "kompas strategis dan moral" kawasan Timur Tengah. Ia menilai operasi militer Israel mengikis kerangka hukum internasional.
"Kita tidak hanya menyaksikan tragedi Palestina, tetapi juga pergeseran menuju dunia di mana hukum digantikan oleh kekuatan," ujarnya, seraya memperingatkan bahwa ketiadaan akuntabilitas atas serangan terhadap warga sipil berpotensi menormalkan dominasi militer dalam hubungan antarnegara.
Di sisi lain, ia juga menyinggung arsitektur keamanan kawasan. Menurut laporan The Jerusalem Post, Araghchi menyatakan Israel bebas memperluas persenjataan militernya, termasuk senjata pemusnah massal di luar rezim inspeksi, sementara negara lain dituntut melucuti senjata. Ia tampil di forum itu beberapa hari setelah kembali dari pembicaraan nuklir tidak langsung dengan Amerika Serikat di Oman.
Kehadiran Francesca Albanese turut menuai kritik dari Israel. Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon menyebut partisipasi Albanese sebagai kegagalan sistem yang ada.
Melalui pernyataan di platform X, ia menuduh Albanese memanfaatkan posisinya di PBB untuk mempromosikan narasi yang ia sebut pro-terorisme dan antisemitisme, serta menyoroti penampilannya di forum yang juga menghadirkan Mashaal, yang ia gambarkan sebagai pemimpin organisasi teroris Hamas.
Albanese, yang menjabat sebagai Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, dijadwalkan berbicara dalam panel berjudul Perjuangan Palestina di Dunia yang Bergerak Menuju Multipolaritas. Informasi kehadirannya awalnya muncul di laman berbahasa Arab forum tersebut sebelum disorot oleh peneliti intelijen sumber terbuka Eitan Fischberger.
Selain itu, Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud juga tampil sebagai pembicara. Menurut liputan forum, ia mengaitkan konflik Gaza dengan ancaman terhadap multilateralisme. Ia memperingatkan tentang "kemerosotan tatanan internasional berbasis aturan yang ada, yang dapat dengan mudah mengembalikan seluruh dunia ke masa kelam di masa lalu."
Forum yang berlangsung hingga 9 Februari ini turut menampilkan dialog khusus dengan Mashaal, sesi bersama mantan Jaksa ICC Fatou Bensouda, serta panel yang membahas peran influencer digital dalam membentuk narasi global soal Palestina.
Mustafa Barghouti dari Palestinian National Initiative dan sejumlah analis kebijakan kawasan juga dijadwalkan membahas masa depan Gaza serta implikasinya bagi konstelasi politik regional, sebagaimana dipaparkan dalam agenda forum.

0Komentar