Sam Altman, CEO OpenAI

CEO OpenAI, Sam Altman menyebut kemajuan kecerdasan buatan China “luar biasa” dan berkembang cepat di berbagai sektor, dalam pernyataan yang mencerminkan perubahan nada di tengah persaingan teknologi global yang kian ketat.

Berbicara kepada CNBC di sela-sela India AI Impact Summit 2026 di New Delhi, Kamis, Altman mengatakan perkembangan teknologi China tidak terbatas pada satu bidang saja.

“Tidak hanya di AI tetapi di banyak bidang,” ujarnya kepada jurnalis Arjun Kharpal. “Kemajuan China sangat cepat sekali.”

Saat ditanya apakah perusahaan-perusahaan China kini mendekati garis terdepan pengembangan AI, ia menjawab, “Di beberapa area ya dan di beberapa area tidak. Ini tidak sepenuhnya seperti itu.”

Pernyataan ini berbeda dari sikap publik Altman pada Juni 2023. Saat berkunjung ke India ketika itu, ia menyatakan kecil kemungkinan tim dengan anggaran US$10 juta mampu membangun model AI yang dapat bersaing dengan OpenAI. “Sama sekali tidak mungkin untuk bersaing dengan kami dalam melatih model fondasi. Jangan coba-coba,” katanya saat itu.

Namun pada Januari 2025, perusahaan rintisan China DeepSeek meluncurkan model penalaran R1 yang disebut mampu menyaingi produk OpenAI dengan biaya pengembangan jauh lebih rendah. Peluncuran tersebut memicu gejolak pasar global dan menghapus miliaran dolar dari valuasi perusahaan teknologi AS, sekaligus memicu peninjauan ulang terhadap asumsi dominasi Amerika Serikat dalam pengembangan AI.

Sejak saat itu, saham-saham terkait AI di China mencatat kenaikan signifikan. Laporan lembaga keuangan Jefferies menyebut 33 perusahaan AI China menambah nilai pasar gabungan sebesar US$732 miliar dalam setahun terakhir. Meski demikian, kapitalisasi pasar AI China masih sekitar 6,5% dari total kapitalisasi pasar AI AS.

Indeks teknologi domestik China juga naik 13% pada Januari 2026, melampaui kinerja Nasdaq 100 pada periode yang sama.

Pernyataan Altman muncul ketika OpenAI tengah merampungkan putaran pendanaan baru. Bloomberg melaporkan perusahaan itu sedang menyelesaikan pendanaan yang diperkirakan melebihi US$100 miliar, dengan potensi valuasi lebih dari US$850 miliar. Investor yang disebut terlibat antara lain Amazon, SoftBank, Nvidia, dan Microsoft.

Altman mengatakan kepada CNBC bahwa profitabilitas bukan prioritas utama saat ini. OpenAI, kata dia, harus “berkonsentrasi untuk mempercepat pertumbuhan kami” dan akan menghasilkan keuntungan “ketika kami yakin itu masuk akal.”

Ia juga membuka kemungkinan eksplorasi model iklan di layanan ChatGPT. Altman membandingkan pendekatan yang ia pertimbangkan dengan format di Instagram yang menampilkan produk yang “mungkin disukai pengguna dan sebelumnya tidak mereka ketahui.” OpenAI mulai menguji iklan bagi pengguna tingkat gratis pada Januari.

Sejak Agustus 2025, Altman telah menyuarakan kekhawatirannya terhadap laju perkembangan teknologi China. Di San Francisco, ia mengatakan kepada wartawan, “Saya khawatir tentang China,” serta menilai pembatasan ekspor chip canggih oleh AS kecil kemungkinan dapat memperlambat kemajuan Beijing.

Perusahaan-perusahaan China kini mengintegrasikan AI generatif ke berbagai sektor, termasuk e-commerce, manufaktur, dan layanan publik, dalam skala besar, di tengah kompetisi yang semakin terbuka antara dua kekuatan teknologi tersebut.