Bill Gates, pendiri Microsoft dan filantropis terkemuka. | UN PHOTO/FLICKR

Nama Bill Gates kembali menjadi sorotan di media sosial setelah muncul tudingan pelepasan nyamuk rekayasa genetik di Kenya, menyusul beredarnya dokumen Epstein File. Isu tersebut viral pada awal Februari 2026 dan memicu kekhawatiran publik di Nairobi.

Tudingan itu pertama kali mencuat setelah seorang politisi senior Kenya mengunggah pernyataan di platform X

Dalam unggahan tersebut, ia mengaitkan peningkatan populasi nyamuk di Nairobi dengan proyek yang disebut-sebut didanai Bill & Melinda Gates Foundation. Unggahan ini menyebar luas dan memantik reaksi warganet, seiring laporan warga tentang meningkatnya jumlah nyamuk, termasuk di luar musim hujan dan pada siang hari.

Situasi itu terjadi di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu kesehatan dan lingkungan di kawasan perkotaan Kenya. Nairobi dalam beberapa bulan terakhir menghadapi persoalan sanitasi, drainase, serta perubahan cuaca yang berdampak pada lingkungan permukiman. Kondisi tersebut kerap menjadi faktor pendukung berkembangnya populasi nyamuk.

Menanggapi isu yang berkembang, Gates Foundation merilis pernyataan resmi melalui akun media sosial mereka. Yayasan itu menegaskan tidak pernah melakukan pelepasan nyamuk di Kenya dan tidak menjalankan program pengendalian vektor secara langsung di negara tersebut.

“Gates Foundation menyadari adanya klaim di media sosial yang menyebut kami melepaskan nyamuk di Kenya. Klaim tersebut tidak benar,” tulis yayasan dalam pernyataan resminya. 

Mereka juga menyatakan tidak mengoperasikan laboratorium pelepasan nyamuk serta tidak memiliki proyek pengendalian vektor di Nairobi maupun wilayah lain di Kenya.

Disisi lain, Gates Foundation menjelaskan bahwa seluruh dukungan yang mereka berikan di Kenya dilakukan sesuai hukum nasional dan berada di bawah pengawasan otoritas setempat. Program pencegahan dan pengendalian malaria, menurut yayasan, sepenuhnya dipimpin pemerintah Kenya melalui lembaga kesehatan nasional.

Lebih jauh, yayasan menyebut perannya terbatas pada dukungan pendanaan riset, penguatan kapasitas, serta kemitraan dengan peneliti dan organisasi kesehatan masyarakat lokal. Implementasi di lapangan, termasuk distribusi kelambu insektisida, penyemprotan residu di dalam ruangan, dan edukasi kesehatan, dilakukan oleh otoritas Kenya.

Klaim pelepasan nyamuk rekayasa genetik juga dibantah kalangan ilmuwan setempat. Entomolog medis dari Kenya Medical Research Institute (KEMRI) menyatakan hingga kini tidak ada proyek pelepasan nyamuk hasil rekayasa genetik yang dilakukan di Kenya, baik untuk riset maupun pengendalian penyakit.

Menurut para pakar kesehatan, lonjakan nyamuk di Nairobi lebih mungkin dipicu faktor lingkungan. Sanitasi yang buruk, air tergenang di saluran drainase, ban bekas di kawasan permukiman, serta peningkatan suhu perkotaan dinilai berkontribusi terhadap berkembangnya nyamuk. Spesies yang banyak ditemukan juga diduga Aedes, yang berbeda dengan Anopheles sebagai vektor malaria.

Secara global, Gates Foundation memang mendukung penelitian inovatif terkait pengendalian malaria, termasuk riset nyamuk rekayasa genetik melalui mitra internasional. Namun, proyek semacam itu masih berada pada tahap riset terbatas dan uji coba ketat di sejumlah negara dengan izin pemerintah serta pengawasan regulator.

Di Afrika, uji coba nyamuk rekayasa genetik belum pernah dilakukan di Kenya. Hingga saat ini, tidak ada laporan resmi dari pemerintah Kenya yang menunjukkan keterlibatan Gates Foundation dalam pelepasan nyamuk di negara tersebut. Otoritas kesehatan Kenya menegaskan pengendalian malaria nasional tetap mengandalkan metode konvensional yang telah digunakan selama ini, seperti dilaporkan Bizna Kenya.