Fenomena sinkhole atau lubang runtuhan tanah yang terjadi di Sumatera Barat.


Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memfokuskan penelitian pada dugaan keberadaan sungai bawah tanah yang diduga memicu kemunculan sinkhole di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Kajian ini menjadi bagian dari penelitian tahap kedua yang berlangsung pada 2–11 Februari 2026.

Fenomena amblesan tanah itu pertama kali terdeteksi pada 4 Januari 2026. Sejak saat itu, tim geologi melakukan kajian cepat untuk memetakan penyebab serta potensi risikonya. Lokasi kejadian berada di kawasan material vulkanik, sehingga memerlukan pendekatan berbeda dibanding sinkhole pada wilayah batu gamping.

Ahli geologi teknik Badan Geologi Kementerian ESDM, Taufiq Wira Buana, menjelaskan fokus penelitian kini mengarah pada sistem aliran bawah permukaan. 

“Saat ini kami sedang fokus memastikan keberadaan sungai bawah tanah termasuk memastikan apa saja permasalahannya,” kata Taufiq, Selasa (10/2/2026).

Ia menambahkan, karakter amblesan di Situjuah tergolong tidak lazim. Menurut dia, bentuknya menyerupai kawasan kars, tetapi berkembang di endapan tuf lapili. 

“Sinkhole di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota ini memang mirip seperti kars atau batu gamping tetapi muncul di kawasan vulkanik dan inilah yang sedang kami teliti,” jelasnya.

Hasil kajian cepat pada 9–11 Januari 2026 menunjukkan adanya sungai bawah tanah yang membentuk rongga di dalam material vulkanik. Mekanisme pembentukannya dipicu erosi buluh, yakni pengikisan internal partikel tanah yang membentuk saluran alami menyerupai pipa di bawah permukaan. Karena karakter tersebut, Badan Geologi menamai fenomena ini sebagai “Sinkhole Situjuah”.

Saat ini diameter sinkhole tercatat 7,4 meter dengan kedalaman sekitar delapan meter. Meski begitu, tim menilai potensi perluasan masih terbuka, terutama pada arah Tenggara–Barat Laut. Wilayah Nagari Situjuah Batua serta Nagari Tungka di barat daya dinilai lebih rentan dibanding area timur laut, sehingga pemetaan detail zona rawan terus dilakukan.

Dalam penelitian lanjutan, tim membawa peralatan untuk mengukur kekuatan tanah, mendeteksi rongga berisi air maupun kosong, serta menguji kualitas air di sekitar lokasi. Sejumlah sampel tanah dan air akan dianalisis lebih lanjut di laboratorium Bandung, Jawa Barat.

Disisi lain, Badan Geologi mendorong inventarisasi jalur rawan sinkhole secara rinci melalui pendekatan multidisiplin. Metode yang digunakan meliputi survei geofisika seperti geolistrik dan georadar, kajian hidrogeologi, serta geologi teknik. Secara umum, fenomena ini dipicu suplai air melimpah dari hujan dan aliran air tanah yang terus menggerus material tuf yang relatif mudah tererosi, sebagaimana disampaikan tim Badan Geologi dalam penjelasan lapangan.