Zhang Youxia, jenderal terkemuka PLA Tiongkok dan Wakil Ketua Central Military Commission, badan komando tertinggi militer di bawah Presiden Xi Jinping. | REUTERS

Kementerian Pertahanan China mengumumkan pencopotan Jenderal Zhang Youxia dari jabatan Wakil Ketua Central Military Commission (CMC), badan tertinggi militer negara itu, pada Sabtu (24/1). Zhang dan Jenderal Liu Zhenli, Kepala Departemen Staf Gabungan CMC, tengah diselidiki atas dugaan pelanggaran serius terhadap disiplin dan hukum. Keputusan ini diambil dalam rangka pembersihan pejabat militer yang diduga terlibat penggelapan dan korupsi, menurut pernyataan kementerian yang dikutip Newsweek.

Penyelidikan ini menandai perubahan signifikan dalam kepemimpinan militer China, di tengah ketegangan hubungan Beijing dengan AS akibat perang tarif timbal balik dan pembangunan kekuatan militer yang menimbulkan kekhawatiran terhadap Taiwan. 

Zhang, 75 tahun, dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Xi Jinping. Ia bergabung dengan Angkatan Bersenjata China pada 1968 dan Partai Komunis pada 1969.

Gelombang pemecatan di militer

Pencopotan Zhang terjadi setelah Partai Komunis menggulingkan He Weidong, Wakil Ketua CMC lainnya, pada Oktober 2025, dan menggantikannya dengan Zhang Shengmin. Sebelumnya, delapan jenderal lainnya juga dipecat karena dugaan kejahatan keuangan serius. 

CNN melaporkan bahwa sejak Xi Jinping berkuasa pada 2012, sekitar 200.000 pejabat militer telah dibersihkan dalam rangka memberantas korupsi.

Dalam pernyataannya, kementerian tidak merinci dugaan pelanggaran yang dilakukan Zhang. Namun, sumber The Wall Street Journal menyebut bahwa Zhang diduga membocorkan data teknis inti program senjata nuklir kepada AS dan menerima suap terkait promosi jabatan. Dugaan ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas China.

Kepemimpinan militer kini bergeser

Dengan disisihkannya Zhang dan Liu, CMC kini hanya menyisakan dua anggota aktif, yakni Xi Jinping dan Zhang Shengmin. Enam pejabat militer yang ditunjuk Xi pada 2022 sebelumnya telah dicopot. 

The New York Times menyebut perubahan ini sebagai pembersihan paling luas dalam hierarki militer China dalam beberapa dekade terakhir, sekaligus memperlihatkan konsolidasi kekuasaan Xi yang semakin ketat.

Taiwan menanggapi perkembangan ini dengan meningkatkan pemantauan terhadap kepemimpinan militer China. Menteri Pertahanan Taiwan, Wellington Koo, menyatakan bahwa pemerintahnya menggunakan berbagai metode intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR) untuk membaca arah kebijakan Beijing.

“Posisi militer kami didasarkan pada fakta bahwa China tidak pernah meninggalkan penggunaan kekuatan terhadap Taiwan,” ujar Koo, menegaskan bahwa perubahan mendadak di pucuk pimpinan PLA perlu dipahami sebelum ditarik implikasi kebijakan lebih lanjut.

Latihan dan patroli masih berlanjut

Meski kepemimpinan PLA tengah mengalami perubahan besar, aktivitas militer China di sekitar Taiwan tetap berlangsung. Reuters melaporkan bahwa Beijing menggelar latihan militer pada akhir Desember 2025 dan rutin mengirim pesawat tempur serta kapal perang ke wilayah udara dan perairan sekitarnya.

Sejumlah analis menilai pembersihan di pucuk komando dapat menurunkan risiko konflik dalam jangka pendek. Yaita Akio, CEO Indo-Pacific Strategic Think Tank, mengatakan kepada Taiwan News bahwa PLA kemungkinan akan terserap pada restrukturisasi internal selama satu hingga dua tahun ke depan, sehingga para perwira senior lebih fokus pada keselamatan karier mereka daripada operasi militer eksternal.

Di sisi lain, kekosongan kepemimpinan ini juga menimbulkan risiko jangka panjang. Zhang Youxia merupakan salah satu dari sedikit perwira senior China yang memiliki pengalaman tempur langsung, termasuk keterlibatan dalam konflik perbatasan dengan Vietnam pada 1979.