logo World Economic Forum (WEF), sebuah organisasi internasional untuk kerja sama publik-swasta. | WEF


World Economic Forum (WEF) menempatkan pengangguran sebagai ancaman ekonomi terbesar yang akan dihadapi Indonesia dalam dua tahun ke depan. Penilaian itu tercantum dalam Global Risks Report 2026 yang disusun berdasarkan Executive Opinion Survey 2025, melibatkan lebih dari 11.000 pemimpin bisnis di 116 negara.

Dalam laporan tersebut, Indonesia termasuk dalam 27 negara yang memosisikan ketiadaan peluang ekonomi atau pengangguran sebagai risiko ekonomi nomor satu untuk periode 2026–2028. WEF menilai risiko ini berpotensi memicu dampak lanjutan di luar sektor ekonomi.

“Kurangnya peluang ekonomi atau pengangguran dapat mendorong ekstremisme, ketidakpercayaan terhadap institusi yang berkaitan dengan misinformasi dan disinformasi, serta pengawasan berlebihan,” tulis laporan WEF.

Selain pengangguran, WEF mencatat empat risiko utama lain yang membayangi Indonesia. Di posisi berikutnya adalah layanan publik dan perlindungan sosial yang dinilai belum memadai, disusul dampak negatif teknologi kecerdasan buatan, ancaman perlambatan ekonomi seperti resesi atau stagnasi, serta inflasi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai kelima risiko tersebut saling berkaitan dan berpotensi menekan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional. Tekanan, menurut dia, tidak datang dari satu sisi, melainkan dari kombinasi persoalan struktural dan perubahan teknologi.

“Ini bukan risiko yang berdiri sendiri, tetapi rangkaian masalah yang bisa menekan kualitas pertumbuhan ekonomi jika tidak dikelola dengan baik,” ujar Yusuf kepada Kontan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka Indonesia berada di level 4,85% pada Agustus 2025, atau setara 7,46 juta orang. Meski relatif rendah secara agregat, struktur pengangguran masih didominasi kelompok usia muda.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat tingkat pengangguran di kalangan Gen Z mencapai 17%. Sekitar 67% dari total pengangguran nasional berasal dari kelompok usia 15–29 tahun, mencerminkan tantangan dalam transisi dari pendidikan ke dunia kerja.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai persoalan utama tidak hanya terletak pada tingkat pengangguran terbuka, tetapi juga pada kualitas pekerjaan dan daya serap lapangan kerja. Ia menyoroti dominasi sektor informal dan pekerjaan berproduktivitas rendah.

“Banyak tenaga kerja masih terserap di sektor informal atau berproduktivitas rendah, sementara adopsi teknologi, termasuk kecerdasan buatan, berpotensi mempercepat pergeseran jenis pekerjaan tanpa diimbangi kesiapan keterampilan tenaga kerja,” ungkap Rizal.

Dari sisi dunia usaha, Apindo menyoroti penurunan daya serap tenaga kerja dari arus investasi. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam menyebut bahwa pada 2013 setiap investasi Rp1 triliun mampu menyerap sekitar 4.500 pekerja. Pada 2025, angka tersebut turun menjadi sekitar 1.364 pekerja seiring perubahan struktur industri dan meningkatnya penggunaan teknologi.