Presiden Donald Trump menjawab pertanyaan dari anggota media di atas pesawat Air Force One dalam perjalanan menuju Mount Pocono, Pennsylvania, untuk sebuah rapat umum tentang ekonomi, Selasa, 9 Desember 2025. | Foto Resmi Gedung Putih oleh Molly Riley


Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (29/1) mengonfirmasi rencana pembicaraan langsung dengan Iran, di saat Washington secara bersamaan menunjukkan sikap keras melalui pengerahan kekuatan militer ke kawasan sekitar Republik Islam tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Kennedy Center, Washington, ketika ditanya soal kemungkinan dialog langsung dengan Teheran. Ia menyebut langkah tersebut pernah ditempuh sebelumnya dan membuka peluang untuk kembali melakukannya, seraya menegaskan bahwa opsi militer tetap disiapkan.

“Saya sudah pernah dan saya merencanakan hal itu,” kata Trump. “Kami memiliki banyak kapal yang sangat besar dan sangat kuat yang sedang berlayar menuju Iran sekarang, dan akan sangat baik jika kami tidak perlu menggunakannya.”

Konfirmasi itu muncul di tengah kehadiran kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln, yang didampingi sejumlah kapal perusak berpeluru kendali, di kawasan Timur Tengah di bawah yurisdiksi U.S. Central Command. Kehadiran armada tersebut ditempatkan sebagai sinyal tekanan di tengah upaya diplomasi yang belum menunjukkan terobosan.

Dalam wawancara terpisah dengan CBS News pada hari yang sama, Trump menyebut dua tuntutan utama yang ia sampaikan kepada Iran dalam komunikasi terbaru. Menurut dia, tuntutan tersebut mencakup penghentian ambisi nuklir dan kekerasan terhadap demonstran. 

“Nomor 1, tidak boleh nuklir. Dan nomor 2, hentikan pembunuhan terhadap demonstran,” ujar Trump.

Dari Washington, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan militer AS siap menjalankan arahan presiden. Dalam rapat kabinet, ia menegaskan bahwa Iran tidak boleh mengejar kemampuan nuklir dan Departemen Pertahanan akan menyesuaikan langkah sesuai keputusan Trump.

Respons dari Teheran disertai peningkatan kesiapan militer. Pada Kamis, angkatan darat Iran mengumumkan integrasi 1.000 drone tempur baru ke dalam kekuatan operasionalnya. Drone tersebut diklaim dirancang untuk misi serangan, pengintaian, dan perang elektronik.

Masih pada hari yang sama, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan rencana latihan tembak langsung di Selat Hormuz pada 1–2 Februari. Selat strategis itu merupakan jalur sekitar 20% pasokan minyak global dan kerap menjadi perhatian internasional setiap kali terjadi aktivitas militer di kawasan tersebut.

Di tengah meningkatnya ketegangan, sekutu utama AS di Teluk mengambil jarak dari potensi aksi militer. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menyampaikan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahwa Riyadh tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun teritorinya digunakan untuk serangan terhadap Iran. Uni Emirat Arab juga menyatakan sikap serupa, menolak memberikan dukungan logistik untuk operasi militer apa pun.

Sejumlah negara kawasan dilaporkan mencoba membuka jalur deeskalasi. Turki, Oman, dan Qatar disebut berupaya memfasilitasi pembicaraan diplomatik antara Washington dan Teheran, menurut laporan CBS News, meski belum ada kemajuan berarti dalam diplomasi langsung kedua pihak.

Sementara itu, Uni Eropa pada Kamis menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris, menempatkannya sejajar dengan kelompok seperti al-Qaeda dan ISIS. Langkah tersebut dikecam militer Iran sebagai tindakan yang “tidak logis, tidak bertanggung jawab, dan didorong oleh dendam”.

Menanggapi perkembangan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa pasukan keamanan negaranya berada dalam kondisi siaga tinggi. 

“Pasukan kami telah bersiap dengan jari di pelatuk untuk segera dan dengan kuat merespons SETIAP agresi,” kata Araghchi dalam pernyataan resmi. 

Meski demikian, ia menyatakan Teheran tetap terbuka terhadap kesepakatan nuklir yang “saling menguntungkan, adil dan setara” selama dicapai atas dasar kesetaraan.